Nasib Hazara yang "Dikecualikan"

396 views
- Advertisement -

Sekilas, wajahnya mirip orang-orang dari Asia Timur seperti Tiongkok, maupun Mongolia, berwajah putih dan bermata sipit. Namun, gaya pakaian mereka sama seperti kelompok masyarakat di Asia Tengah. Jambang yang lebat tak menutupi “perbedaan” mereka di antara penduduk negeri paling rawan konflik di dunia, Afghanistan.

Mereka adalah penduduk dari etnis Hazara. Meski jumlah mereka cukup besar, sekira 20 persen dari total pendudu Afghanistan, namun mereka selalu menjadi kelompok kelas dua yang terpinggirkan dari percaturan politik dan ekonomi.

“Suku Hazara telah lama dan secara sistematis “dikecualikan” dari akses politik dan ekonomi,” ujar Ali Karimi, mahasiswa asal Afghanistan, dalam sebuah forum ilmiah di Turki yang diikuti KBK beberapa waktu lalu.

Suku Hazara banyak yang mendiami pegunungan bagian tengah Afghanistan yang disebut Hazarajat. Secara agama, mayoritas suku Hazara menganut faham Syiah. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa yang dekat dengan dialek Parsi, Turki, maupun Mongolia. Berbeda dengan mayoritas penduduk Afghanistan yang berbasa Dari dan Pashtun. Jadi, secara agama, fisik, dan bahasa mereka dianggap sebagai “the other”.

Di Kabul, dirkrimanasi terhadap etnis Hazara sangat kentara. Kabul adalah ibukota sekaligus kota terbesar di Afghanistan. Jumlah penduduk Kabul diprediksi mencapai 5 juta. Secara geografis, kota Kabul dibagi menjadi timur dan barat dengan pegunungan yang membentang memisahkan kedua sisi tersebut.

Suku Hazara banyak yang tinggal di Kabul Barat (Gharb-e Kabul), atau yang dalam teks-teks abad ke-19 dikenal dengan “Chahar Deh Valley”. Di sini, sekali lagi, ketimpangan antara kehidupan Hazara dengan non-Hazara sangat mencolok. Warga non-Hazara, terutama dari suku Pashtun yang merupakan mayoritas, hidup di rumah yang cukup besar dan mewah dengan akses listrik dan air.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Anti Bot *