Saat Merpati Perdamaian Semakin Terbang Jauh

93 views
- Advertisement -

Kapal-kapal perang Rusia melancarkan serangan rudal dari Laut Kaspia, sedangkan pesawat-pesawat tempurnya menjatuhkan bom di wilayah Suriah sejak 30 September lalu yang menurut pengakuan pihak militer negara itu ditujukan ke  posisi-posisi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) dan kelompok radikal lainnya.

Sumber kementerian pertahanan Rusia yang dikutip kantor-kantor berita transnasional mengungkapkan, pasukan Rusia antara lain menyasar posisi-posisi NIIS seperti pusat-pusat komando, gudang senjata dan pusat latihan di wilayah Suriah yang tersebar di Provinsi Raqqa, Hama, Damaskus dan Aleppo.

Sebaliknya, kelompok anti pemerintah Suriah dan koalisi Barat di bawah Amerika Serikat  menuduh  Rusia bukannya fokus saja memerangi NIIS, tetapi malah mencuri-curi kesempatan untuk menyerang kelompok-kelompok perlawanan terhadap rezim Bashar al-Assad termasuk kelompok binaan AS.

Koalisi Internasional pimpinan AS  sendiri telah melancarkan serangan udara terhadap kantong-kantong NIIS di Suriah sejak setahun lalu sebelum Rusia melibatkan diri langsung dalam konflik akhir September lalu.

Uni Eropa juga mengingatkan Rusia untuk hanya memerangi NIIS dan kelompok teroris lain yang berafiliasi dengan NIIS. “Seharusnya tidak ada sasaran lain di Suriah di luar  NIIS, “ kata Menlu Luksemburg Jean Alberson.

Presiden Rusia Vladimir Putin dalam wawancara dengan TV Rossiya One bersikeras menyangkal  tudingan pihak Barat dan bersikukuh menyebutkan bahwa operasi udara dan laut yang dilancarkan ke wilayah Suriah bertujuan menstabilkan pemerintah Suriah yang sah di bawah Presiden Bashar al-Assad dari rongrongan kelompok NIIS.

Yang jelas, rezim Bashar Al-Assad yang sudah kewalahan menghadapi kelompok perlawanan dalam konflik berdarah yang sudah berlangsung sekitar 4,5 tahun di negeri itu, diuntungkan dan berada di atas angin dengan  keterlibatan aktif dan langsung militer Rusia di wilayahnya.

Pasukan pemerintah Suriah didepak dari provinsi Idlib, Suriah Barat  oleh kelompok perlawanan Al-Nusra dan Jaidh Al-Fatah Mei lalu, sedangkan sebagian wilayah timur dan utara negeri itu dikuasai NIIS dan suku Kurdi.  Jadi, rezim al-Assad praktis hanya mampu bertahan di sekitar ibukota Damaskus, Hama, Homs dan pantai Latakia.

Yang paling sengsara, tentu saja rakyat Suriah. Sekitar 2 juta orang hengkang dari negaranya, “menyabung nyawa” menyeberangi Laut Mediteranea atau melintasi Turki dari darat menuju wilayah negara-negara Uni Eropa.

Sekitar 12 juta orang harus menerima bantuan karena kehilangan mata pencaharian, dan diperkirakan lebih 200.000 tewas terjebak di berbagai lokasi pertempuran.   Sejak awal 2015, tercatat 630.000 pengungsi terutama dari Suriah (sebagian dari Afghanistan, Irak, Jordania) membanjiri wilayah negara-negara Uni Eropa, sebagian besar ditampung oleh Jerman.

Koalisi Internasional pimpinan AS di satu pihak dan koalisi Rusia, Iran,Irak di pihak lain, sebenarnya  berada satu front menghadapi musuh bersama, NIIS. Perbedaannya, koalisi Barat tidak menginginkan keterlibatan rezim Al-Assad dalam penyelesaian konflik karena dianggap otoriter dan bertanggungjawab dalam pembantaian terhadap lawan-lawan politiknya. Sebaliknya Rusia mati-matian  mempertahankan kekuasaan  Al-Assad, sekutu lamanya.

Bagi Rusia, Suriah adalah kunci dalam upaya menanamkan pengaruhnya di Timur Tengah. Selain itu Rusia juga menempatkan pangkalan angkatan lautnya di kota Tartus, Suriah yang menghadap ke Laut Tengah.

Bashar al-Assad tentu juga tidak melupakan kebaikan pemerintah Rusia, terutama saat Suriah dipimpin ayahnya, Hafez al-Assad, yang memasok persenjataan secara besar-besaran bernilai jutaan dolar AS tiap tahun untuk mengimbangi kekuatan Israel, musuh bebuyutan negara-negara Arab termasuk Suriah.

Namun  keterlibatan langsung militer Rusia dalam konflik Suriah mau tidak mau ikut mengubah konstalasi militer di lapangan, dan dikhawatirkan akan memicu konflik berkepanjangan di negeri itu.

Konflik Suriah terjadi akibat perebutan pengaruh atau konspirasi politik, baik  di tingkat sektarian (antara lain Sunni dengan  Syiah), di tingkat nasional (pemerintah melawan kelompok perlawanan), regional (antara Arab Saudi, Turki di satu pihak dan  Iran, Irak dan Kurdi di pihak lain) maupun di level  global (AS-Rusia).

Pihak yang diuntungkan dalam konflik Suriah tentu saja para makelar dan produsen senjata, dan yang dirugikan Turki yang dijadikan pintu masuk pengungsi dan negara-negara Uni Eropa yang bakal  kebanjiran pengungsi, dan yang paling menderita pastilah rakyat Suriah yang akan menjadi tumbalnya.*** (Nanang Sunarto)

- Advertisement -