Selasa , 25 Juli 2017
Home > Oase > Pahlawan yang Dilupakan

Pahlawan yang Dilupakan

Hari berganti hari, tahun pun berganti tahun. Kita percaya bahwa memang ada waktu yang merentang lurus, karena itu setiap hari manusia berpikir suatu dimensi seperti adanya malam, bulan, dan musim. Sebelum waktu diukur dengan tepat, manusia pernah berpegang pada kronologi terjadinya binatang berdasarkan temuan lapisan bumi (stratografik). Bahwa, yang pertama kali ada di muka bumi ini ialah ikan, menyusul amfibi, kemudian reptil, dan terakhir mamalia. Karena belum ada fosil manusia yang ditemukan, berkembanglah anggapan bahwa manusia adalah makhluk terakhir yang diciptakan oleh Tuhan.

Tahun 1975 James Hutton, seorang pakar gunung berapi, meneliti gunung berapi yang membentuk permukaan bumi. Ia meneliti masa sekarang untuk menghubungkannya dengan masa lalu. Ia berkesimpulan bahwa perubahan bumi sangat perlahan. Karena itu, untuk sampai pada kondisi bumi yang ada sekarang, diperlukan waktu yang sangat lama. Orang-orang Mesir lah kemudian yang dapat menghitung satu hari terdiri atas enam puluh menit. Untuk mensosialisasikan masyarakat agar sadar dan tepat waktu, orang Barat punya kebiasaan memasang jam pada sebuah menara.

Dengan demikian, masyarakat selalu menganggap waktu menjadi bagian dari hidupnya. Bukan, hanya detik demi detik dihitung dengan tepat, tetapi juga pengakuan bahwa sebuah kualitas waktu merekat pada sesuatu yang hidup dan tidak hidup. Yang sangat berharga setelah itu, umur manusia di atas bumi bisa diketahui dan mendorong manusia selalu bertanya tentang dirinya.

Kita percaya, waktu sebagai sebuah proses bersiklus atau merentang lurus (linier). Karena itu, ada masa lalu dan masa kini. Dalam perjalanan waktu, lumrah suatu generasi diganti oleh generasi lain yang lebih baru, ada proses regenerasi. Dari generasi Budi Utomo ke generasi Sumpah Pemuda, dari genersai kemerdekaan pada genersi pascakemerdekaan. Tanpa adanya regenerasi, berarti menentang hukum alam. Bung Kamo oleh manusia dinobatkan sebagai.”presiden seumur hidup”, tetapi Bung Kamo tetap mengikuti jalan hidupnya. Sunatullah, Ia tidak bisa mengawetkan waktu.