Mengenang Prof. Dr. Koentjaraningrat, Bapak Antropologi Indonesia

1.303 views
- Advertisement -

Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, namun karakter bangsa yang diinginkan Prof. Dr. Koentjaraningrat, Bapak Antropologi Indonesia, belum juga terwujud. Justru sebaliknya. Prof. Koentjaraningrat,  biasa dipanggil Prof. Koen, tahun 1974 mengungkapkan mentalitas manusia Indonesia yang menghambat pembangunan.

Dalam bukunya “Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan” 41 tahun lalu, Prof. Koen menyebut sifat-sifat yang menghambat pembangunan, yakni: 1. Mentalitas yang meremehkan mutu, 2. Mentalitas suka menerabas, 3. Sifat tidak percaya kepada diri sendiri, 4. Sifat tidak berdisiplin murni dan 5. Sifat tidak bertanggung jawab.

Sifat-sifat yang tidak kondusif untuk pembangunan, bahkan merusak, itu masih saja ditemukan pada bangsa ini, termasuk para pengelola pemerintahan dan pengambil keputusaan, kata Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono dalam acara “Mengenang Prof. Koentjarangingrat”  yang diselenggarakan Lingkar Budaya Indonesia (LBI) di Jakarta, Kamis (26 November) sore.

Meutia Hatta, mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, mengajukan  pertanyaan: “Kita ingin bangsa Indonesia seperti apa?” Meutia, mantan murid Prof. Koen, menjawab sendiri pertanyaannya, yakni: bangsa yang tangguh (termasuk tidak boros, tidak malas dan disiplin), tekun, mandiri, cinta tanah air dan bangsanya dan tidak rendah diri.

Mengacu kepada tulisan Prof. Koen, Meutia menyebut  karakter yang harus dimiliki bangsa Indonesia meliputi: 1. Sifat menghargai mutu/kualitas, 2. Kesabaran untuk meniti usaha dari awal, 3. Adanya rasa percaya diri karena yakin akan kualitas dirinya, 4. Sikap disiplin dalam waktu dan pekerjaan dan 5. Mengutamakan tanggung jawab.

Prof Koen, lahir di Yogyakarta 15 Juni, 1923, dan wafat 23 Maret, 1999 di Jakarta. Ia dikenal sebagai guru besar yang mendidik langsung sebagian besar ilmuwan antropologi yang menjadi pengajar utama di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik swasta atau negeri. Prof. Koen membangun dan mengembangkan jurusan antropologi di UI, UGM, Unpad, USU, Unhas dan Uncen. Sepantasnya ia digelari Bapak Antropologi Indonesia.

- Advertisement -