2016, Akankah Badai Finansial Berlalu?

370 views
- Advertisement -

Tinggal 6 hari lagi kita akan segera menutup lembaran 2015 dengan lembaran baru 2016. Hari hari yang berat dan bahkan berdarah darah di bidang ekonomi setidaknya akan terlewati. Entah bagaimana nanti suasana saat Presiden membunyikan sirine tanda akhir sessi perdagangan di bursa efek Indonesia 2015, disambut dengan kegembiraan dan tepuk tangan meriahkah atau kesedihan?

Bagaimana tidak sedih, otot rupiah melemah 11 persen lebih sepanjang tahun ini bahkan pernah nangkring di titik terendah sepanjang sejarah era reformasi RP.14.855 per 1 US Dollar. Indeks Harga Saham Gabungan, yang mencerminkan kinerja sektor usaha juga longsor dibawah 14%. Pertumbuhan ekonomi mengkeret, devisa negara menipis dan terkuras untuk menjaga rupiah yang ambrol. Belum lagi hancurnya harga-harga produk komoditas yang selama ini mendominasi ekspor kita, batubara terjun bebas hingga minus 16% sepanjang 2015. Timah minus 25%, tembaga minus 25%, Nickel minus 40%, bahkan minyak mentah longsor hingga 36%.

Ilustrasi/Ist
Ilustrasi/Ist

Menurunnya kinerja perekonomian dunia terutama mitra-mitra dagang utama Indonesia seperti China, Jepang, Amerika menyebabkan permintaan akan produk kita juga menurun ditambah ketidakpastian akibat kebijakan Bank Sentral Amerika The Fed untuk menaikan tingkat suku bunganya makin membuat meriang perekonomian kita. Namun seperti ujaran lama yang lalu biarlah berlalu, skarang bagaimana kita akan menjalani tahun tahun berikutnya. Akankah awan hitam masih menggayut di langit perekonomian Indonesia ?

Mari kita lihat beberapa indikator yang bisa dijadikan patokan. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, kita pantas sedikit kawatir sebab lembaga lembaga keuangan dunia seperti IMF dan World Bank tampaknya belum terlalu optimis memandang 2016. Mereka meramalkan ekonomi dunia hanya akan tumbuh sekitar 3,6 persen naik 0,2 persen saja dari 2015. Jika ekonomi dunia hanya tumbuh sebesar itu, maka setidaknya kita tak bisa banyak berharap dari peningkatan nilai ekspor kita. Permintaan akan produk dan komoditas Indonesia dari luar negeri belum akan sesuai ekspektasi. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pun diprediksi hanya di kisaran 5-5,3 persen oleh IMF dan Bank Dunia. Angka yang cukup moderat namun tidak optimis memandang prospek 2016.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Anti Bot *