Kopi Dinding; Pesan 1 Bayar 2 ala Lapau Ongga

662 views
Musfi Yendra
- Advertisement -

Istilah Kopi Dinding menjadi populer di Kota Padang. Sejak sebuah warung kopi yang bernama Lapau Ongga di Pasa Mudiak Padang menjadi tempat diluncurkannya gerakan berbagi.

Gerakannya disebut Kopi Dinding. Bermula dari diskusi di sebuah grup WhatsApp bernama Tukang Ota Paten (TOP) 100. Grup sosial media ini beranggotakan berbagai kalangan. Mulai dari mantan menteri, kepala daerah dari gubernur hingga bupati/walikota, pengusaha, birokrat, akademisi, aktivis, wartawan, budayawan, sastrawan, seniman, hingga pengacara.

Saya sendiri sudah lama menjadi anggota grup tersebut. Heranof, pewarta di RRI Padang lah yang pertama kali mem-posting sebuah tulisan tentang Kopi di Dinding yang menjadi tren berbagi di Venesia, Italia.

Adalah Dr. Leo Buscaglia yang menulis kisah inspiratifnya. Guru besar itu dalam satu bukunya bercerita tentang “Kelas Cinta”. Sebuah kelas di ruang terbuka halaman kampus yang mengajak para mahasiswa untuk membahas masalah kehidupan yang dapat diselesaikan dengan “cinta” atau “kasih”. Secangkir kopi di dinding adalah wujud cinta yang ikhlas kepada kaum miskin.

Pada satu waktu seorang datang ke kafe terkenal di Venesia. Ia memanggil pramusaji dan memesan kopi. “Kopi dua cangkir, yang satu untuk di dinding” kata si pemesan.

Segera setelah pria tersebut pergi, si pramusaji menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan, “segelas kopi” di dinding kafe. Si pemesan meminum satu, namun ia membayar dua cangkir. Orang di sekitarnya heran.

Di lain kesempatan seseorang lelaki tua masuk ke dalam kafe. Pakaiannya kumal dan kotor. Setelah duduk ia melihat ke dinding dan berkata kepada pelayan, “satu cangkir kopi dari dinding”.

Pramusaji segera menyuguhkan segelas kopi. Setelah menghabiskan kopinya, lelaki lusuh tadi lantas pergi tanpa membayar. Tampak si pramusaji menarik satu lembar kertas dari dinding tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah.

- Advertisement -