Layar Kaca yang Ramah Anak

854 views

Indonesia mengenal TV siaran sejak 1962 bersamaan dengan pelaksanaan Asian Games. Pada waktu itu pula kompleks olah raga Senayan yang gagah diperkenalkan. Jembatan Semanggi mulai dipakai. Peristiwa-peristiwa itu adalah bagian yang cukup penting dalam sejarah Indonesia modern.

Puluhan tahun kemudian kita kenal TV siaran swasta yang komersial dengan lahirnya RCTI dan para tetangga berikutnya. Selama puluhan tahun kita mengenal siaran TV pemerintah sebagai saudara kandung siaran radio pemerintah. TVRI dan RRI menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam arus informasi. Sistem politik yang berlaku membuat dunia penyiaran (radio dan TV) sebagai corong. Pemerintah masa tersebut harus mengakui peran sangat penting keduanya.

Sistem arus informasi membuat masyarakat bertahun-tahun mendapatkan kaca mata pandang dengan tipe milik kuda. Warga masyarakat hanya disuguhi pandangan yang satu arah. Kuda tidak mendapat kebebasan untuk melihat kiri-kanan, apalagi atas-bawah. Itu kelemahannya.

Tapi media cetak masih tetap mendapat kebebasan dibanding media penyiaran. Itu bukan berarti media cetak tidak mendapat kendala. Ada beberapat peradilan politik buat mereka, putusan politik yang mematikan mereka alias tidak boleh terbit. Itu juga bagian dari pelajaran buat media cetak di Indonesia.

Kelebihannya, kedua lembaga penyiaran memberikan hiburan kepada masyarakat dengan bermutu. RRI menyuguhkan sandiwara radio melegenda Butir-butir Pasir di Laut, Saur Sepuh, dan sejenisnya. TVRI tidak mau kalah dengan Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, Tuanku Sambusai, Rumpun Bambu, Jendela Rumah Kita, dan sejenisnya. Persembahan itu adalah sandiwara dan sinetron yang benar-benar mendidik.

Di zaman berikutnya, arus informasi dibuka lebar. Kaca mata kuda dilepas. RRI dan TVRI tidak lagi menjadi kepanjangan tangan dan corong pemerintah. Mereka mendapat sebutan baru, lembaga penyiaran publik. Pemerintah tidak boleh lagi memonopoli pemanfaatannya. Kepentingan masyarakat menjadi menonjol meski dari segi pembiayaan masih dari negara. Kebebasannya bersejajar dengan media cetak. Kelebihan media cetak cukup luar biasa karena tidak memerlukan izin lagi, sesuatu yang selama puluhan tahun sebelumnya dianggap sebagai hantu.