Air Mengaliri Kehidupan

688 views
Mencari Air Bersih. Foto: Ist
- Advertisement -

Jalan bebatuan yang terjal dan menanjak tak membuat langkahnya surut. Sebaliknya, dia semakin gesit dan lincah melintasi celah jalanan yang terjal. Kami terpaksa meninggalkan kendaraan roda empat yang kami tumpangi dan menggantinya dengan sepeda motor, karena jalan menuju kaki Bukit Lumbung, di Dusun Tanggung Rejo, Desa Karang Patihan, Balongan, Ponorogo tidak memungkinkan untuk dilalui dengan mobil. Sepeda motor yang dipakai pun harus dimodifikasi bannya supaya tidak mudah selip.
“Di balik bukit itu sudah masuk daerah Pacitan,” ungkap pria paruh baya itu dengan tetap menjaga keseimbangan sepeda motor yang dikendarainya. Sekali dalam sepekan, pria itu datang ke dusun yang jaraknya puluhan kilometer dari rumahnya. Tujuannya adalah memastikan warga mendapat air bersih dari bak penampungan yang sudah dibangun. Pria dengan jenggot tipis itu bernama Ahmad Thobroni (46), pegiat sosial yang sangat perhatian pada nasib masyarakat di sekitar kota Reog, Ponorogo.

Ketika Dompet Dhuafa menggulirkan program pengadaan air bersih bagi masyarakat Dusun Tanggung Rejo awal tahun 2010, Thobroni termasuk orang yang berada di barisan depan, bahu-membahu bersama warga setempat menyukseskan program ini. Di wilayah yang berjarak 25 kilometer dari pusat kota Ponorogo ini, Dompet Dhuafa membangun 9 bak penampungan air dengan kapasitas 1.500 liter air.

Dari 9 bak besar itu, air dialirkan ke 20 bak penampungan yang berukuran lebih kecil. Sedikitnya 55 rumah bisa menikmati dan menerima manfaat dari program ini. “Kalau musim kemarau di sini sangat parah, tumbuh-tumbuhan mati semua dan warga harus memikul air sejauh 2 kilometer hanya untuk mandi, cuci, dan kakus. Kini air bisa masuk ke rumah warga melalui bak-bak itu. Satu bak kecil untuk dua hingga tiga rumah,” terangnya.

- Advertisement -