Fenomena Ekonomi Ramadhan

1.221 views
Ilustrasi/KBK
- Advertisement -

Antrian panjang mengular hingga 20 meteran. Tidak hanya satu antrian, ada belasan antrian serupa. Lorong-lorong yang hanya dipisah rak pun sulit dilewati. Pengunjung harus berdesakan saat akan mengambil barang belanjaan karena terhalang troli.

Demikianlah suasana di depan kasir sebuah toko swalayan besar di bilangan Jakarta Selatan. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam, suasana ramai di salah satu malam bulan Ramadhan itu terus berlangsung. Keriuhan serupa juga terjadi di sejumlah pusat perbelanjaan lainnya.

“Anomali,” demikian disampaikan peneliti Siber-C, pusat kajian ekonomi Islam di STEI SEBI, Kamal Ibrahim. Menurutnya, selama Ramadhan, animo masyarakat untuk berbelanja sangat tinggi.

Bagaimana tidak, di hari-hari biasa, kita bisa makan tiga kali sehari dengan mengeluarkan uang Rp30 ribu. Namun di bulan ramadhan, kita menghabiskan Rp40 ribu dalam sehari, padahal kita hanya makan dua kali dalam sehari,” demikian katanya, menggambarkan bagaimana tingkat konsumsi masyarakat selama Ramadhan.

Kamal menyebut fenomena ekonomi di bulan Ramadhan dengan Ramadhanomic. Pasalnya, selama bulan Ramadhan, kegiatan ekonomi sangat menggeliat. Baik dalam artian positif, maupun negatif. Negatifnya, seperti yang sudah dijelaskan di atas, masyarakat cenderung konsumtif. Sementara sisi positifnya, Ramadhan berhasil menggerakkan ekonomi mikro masyarakat. Di banyak tempat kita bisa melihat orang berjualan aneka sajian takjil Ramadhan.

Hadirnya para pedagang “musiman” di bulan Ramadhan juga menjadi ciri khas Indonesia. Sesuai dengan hukum ekonomi, bahwa permintaan yang tinggi harus diimbangi dengan jumlah penawaran agar terjadi keseimbangan. Maka perputaran perekonomian umat begitu cepat di bulan Ramadhan.

“Masjid yang biasanya hanya digunakan sebagai tempat sholat kini menjelma layaknya pasar,” tambahnya.

Tahun lalu Bank Indonesia (BI) mencatat, peradaran uang (hanya) di Jakarta mencapai Rp35,6 triliun selama Ramadhan. Sementara kebutuhan uang (outflow) secara nasional selama bulan Ramdhan hingga Idul Fitri mencapai Rp 125,5 triliun.

- Advertisement -