Wakaf dengan cara Kapitalis (9)

335 views
Wakaf Jalan Allah
Ilustrasi: Wakaf
- Advertisement -

Wakaf dengan cara Kapitalis (9)

Patut diteladani kisah hidup pemimpin Islam Sultan Muhammad Al Fatih yang menjadi Sultan Utsmani ke-7  (1451-1481 M). Dialah pemimpin yang berhasil menaklukkan Konstantinopel ibukota Bizantium pada tahun 1453 M. Salah satu tindakan bersejarah adalah menyatakan Gereja Aya Sofia, salah satu tanda kekuasaan gereja dan kekaisaran Romawi, sebagai harta wakaf, dan mengubah fungsinya menjadi masjid. Inilah masjid agung pertama di wilayah Utsmani. Al Fatih segera melengkapi dan memperluas aset wakaf tersebut dengan membangun sebuah pasar besar. Begitulah sunnah Rasulullah Saw, membangun masjid dikelilingi pasar terbuka.

Ketika membangun wakaf masjid berikutnya Al Fatih melengkapinya dengan 6 sekolah setingkat dasar hingga universitas, perpustakaan, Rumah Sakit, wisma persinggahan dan fasilitas umum (Fasum) lainnya. Model kompleks wakaf seperti ini disebut Imaret. Begitulah instrumen pemerataan kesejahteraan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw, menjadi amal para sahabat, dan kemudian menjadi model bagi para pemimpin Islam.

Dikisahkan pada suatu ketika Rasulullah Saw meminta Bani Najjar untuk membangun sebuah masjid. Ketika ditanya berapa biayanya, mereka menjawab, “Kami tidak menginginkan biaya itu diganti, itu adalah untuk Allah Swt.” Jadilah masjid itu wakaf dari seluruh warga Bani Najjar. Wakaf secara gotong royong inilah yang disebut sebagai wakaf syuyu’i (Wakaf Gotong Royong)

Dengan demikian ada 3 jenis wakaf. Pertama, wakaf khaeri yaitu wakaf yang dilakukan oleh seseorang untuk kepentingan umum. Kedua, wakaf ahli yaitu wakaf yang dilakukan oleh seseorang lainnya demi sanak dan kerabatnya. Adapun jenis ketiga adalah wakaf syuyu’i sebagaimana yang dilakukan oleh Bani Najjar diatas, wakaf diberikan secara gotong royong oleh banyak orang untuk kepentingan umum.

Ketiga jenis wakaf tersebut menggambarkan peranan wakaf sebagai salah satu pilar utama muamalat (sosial). Ketika syariat Islam ditegakkan, bukan hanya urusan pribadi (seperti sholat, puasa dan berhaji) yang ramai, namun ramai pula perdagangan yang halal, sedekah yang subur dan kehidupan sosial yang makmur. Namun, kini kita melihat hal yang sebaliknya terjadi. Perdagangan monopolistik dan hampir mati, sedekah paceklik, riba yang menggurita dan kemiskinan serta kelaparan yang merajalela.

- Advertisement -