Mak Uduk Berlindung di mana?

3.839 views
- Advertisement -

Mak Uduk kawatir bila cucunya tidak dapat sekolah. Ada petugas yang telah mencarikan sekolah dengan minta upah. Cucu ini menjadi jagoannya. Segala perhatiannya ditujukan kepada sang cucu setelah emak dan ayahnya tewas korban truk tabrak lari.

Mak Uduk tidak habis pikir, setelah tiga bulan, harus bayar uang sewa rusunawa. Dengar dari petugas, rusunawa ini sebenarnya tidak untuk korban gusuran tapi untuk disewakan kepada buruh yang masih bujangan. Satu kamar untuk dua orang bujangan.

Dapatlah dimengerti mengapa Mak Uduk kemudian resah. Dia tidak bisa jualan nasi uduk karena tidak ada pembelinya. Beberapa orang pindahan menanak nasi sendiri di kamarnya masing-masing.

Dalam keadaan yang paling sedih pun, Mak Uduk tidak pernah mengeluarkan air mata. Kepada cucunya memang diajakarkan untuk tidak meratapi hidup. Segala sesuatu sudah ada yang mengatur. Itu harus dijalanani dengan langkah-langkah yang tidak goyah.

Harus berjualan apa, harus bekerja apa, dan harus bernaung di mana, adalah pertanyaan yang memburu Mak Uduk. Tidak menambah pendapatan dan selalu menguranginya adalah beban yang harus diatasinya. Keadaan yang menghimpit ini tidak diceritakan kepada cucunya.

Mak Uduk sedang duduk mencakung. Matanya menerawang menembus jendela. Tidak ada sesuatu lain yang dipikirkannya kecuali bagaimana cari makan dan membayar sewa kamar yang sudah harus dimulai bulan depan. Si Cucu belum juga pulang sekolah, sudah lewat lima jam.

Tiba-tiba cucunya muncul beruluk salam dengan wajah berkeringat. Dia tersenyum lalu mencium tangan neneknya. “Aku bawa uang, Nek,” ujarnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang kumal. “Simpan, Nek. Nanti ada gunanya. Aku tadi memulung.”

Mak Uduk menerima uang tersebut dengan dada berdegup. Air matanya sudah menggantung akan jatuh. Kawatir dilihat cucunya segera dia berpaling dan  berkata, “Makanlah dulu.”

- Advertisement -