Bertenggangrasa Keagamaan

352 views
- Advertisement -

SEBAGAI negara Pancasila, tenggang rasa keagamaan tak bisa ditawar lagi. Tapi yang terjadi di Labuhan Batu (Sumut), panitia HUT kabupaten masih juga mencoba menawarnya. Bagaimana tidak? Muadzin Eka Ramadhana (25) yang minta suara speaker musik dikecilkan di saat adzan dhuhur, eh….malah dikerubuti dan di-pithing. Untung saja Bupati H. Pangonal Harahap berhasil mendamaikannya.

Berkat Pancasila ciptaan Bung Karno, Indonesia selalu aman damai. Umat beragama bebas menjalankan syariatnya masing-masing. Para pemeluk teguh itu saling menghormati dengan penuh tenggang rasa. Dengan sikap penuh toleransi para pemeluknya, negeri ini selalu nampak damai. Bukan cuma kata Kodam Jaya di Jakarta, damai itu memang indah.

Sayangnya, indahnya damai keagamaan itu nyaris terusik di Labuhan Batu, mana kala muadzin Eka Ramadhana mencoba mengingatkan panitia perayaan HUT ke-71 kabupaten tersebut belum lama ini. Muadzin mesjid Muhsinin ini layak mengingatkan, karena di waktu adzan dhuhur hendak dikumandangkan, musik keras breng gedumbreng di panggung itu terus saja bunyi berdebam-debam.

“Tolong Mas suara loadspeakernya dikecilkan, waktunya adzan dhuhur nih,” kata Eka Ramadhani kepada bagian protokol. Protokol melemparkannya ke pihak panitia. Rupanya tak memperoleh tanggapan, sehingga dengan kecewa sang muadzin itu kembali ke mesjid. Tapi tiba-tiba dia dikejar sejumlah panitia, lalu dikerubuti petugas dari Satpol PP serta aparat dari Mapolres Labuhanbatu. Dengan posisi leher dipithing Eka Ramadhani dibawa ke Mapolres. Untung saja Bupati Labuhan Batu H. Pangonal Harahap berhasil mendamaikannya.

Sebenarnya peristiwa itu tak perlu terjadi, manakala pihak penyelenggara –yang yang mungkin non muslim– bisa saling menghargai dan menghormati. Apa sih susahnya mengecilkan suara speaker atau mematikan musik itu barang sebentar? Apakah karena tindakan tersebut akan mengakibatkan honor para awak band-nya dipotong?

- Advertisement -