Bau Terasi Karena Gengsi

256 views
- Advertisement -

 

SUKSES kadang diawali dari “stress” di kala reses. Contohnya Aulia Deviyanti, warga Padang Panjang, Sumatera Barat ini. Saat cemas akan masa depan yang tak menjanjikan, ketika libur mengajar dia mengisi waktu dengan jualan goreng-gorengan di depan rumah. Ternyata laku, pilihan konsumen lebih banyak pada risoles. Hari berikutnya Aulia mengkhususkan jualan risoles, tambah laku keras. Tak peduli akan gengsi, meski dosen yang sarjana S2, dia pilih berhenti mengajar dan jualan risoles. Kini dia memiliki gerai risoles di berbagai kota di Sumbar dan punya banyak karyawan.

Seandainya angkatan muda Indonesia bersikap macam Aulia Deviyanti, niscaya angka pengangguran cepat terkikis habis. Negara tak perlu jadi eksportir TKI dan TKW, karena anak negeri mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Mereka takkan merengek pada negara untuk dicarikan pekerjaan. Fakta di lapangan menunjukkan, demi peluang kerja banyak yang malah dikerjain calo tenaga kerja. Sudah keluar uang berjut-jut bolehnya jual ini itu di kampung, tapi tetap saja menjadi panji klanthung (penganggur).

Angka pengangguran di negeri kita tercatat 7,02 juta hingga Mei 2016, begitu kata BPS (Badan Pusat Statistik). Maklum, setiap tahun SMTA dan perguruan tinggi selalu menciptakan penganggur-penganggur baru. Tak semua lulusannya tertampung. Ada pengangguran terbuka, ada pula pengangguran tertutup. Jenis terakhir adalah mereka yang  pekerjanya tak menentu. Ditanya orang jawabnya: kerja di PT Tempo, padahal maksudnya, tempo-tempo kerja, tempo-tempo tidak.

Sedikit manusia Indonesia yang siap melawan pengangguran macam Aulia. Dia sadar bahwa terbelenggu oleh gengsi justru akan menjadikan bau terasi. Bayangkan, dia seorang dosen S2, yang di kampus segala omongannya akan dicatat dan jadi referensi mahasiswanya. Tapi demi masa depan yang lebih baik, semua gengsi itu ditinggalkannya. Dia tak peduli akan omongan orang, “Kuliah mahal-mahal kok cuma jualan risoles.”

- Advertisement -