Tenaga Kerja dan Tenaga Kuda

445 views
Ilustrasi /Ist
- Advertisement -

SUNGGUH kasihan Pudjo Kastowo (40) dari Ponorogo (Jatim) ini. Bertahun-tahun istrinya, Sumini Indrawati (36), bekerja jadi TKW di Malaysia, tapi tak mengubah nasib keluarga. Boro-boro kirim uang, nasibnya sendiri tak jelas ada di mana. Pudjo tetap hidup miskin, tinggal di gubuk reyot bersama dua ekor kambingnya. Tambah ngenes lagi,  Dwi Khasanah (13) putrinya tewas kecelakaan lalulintas. Tragis memang. Istri menjadi tenaga kerja luar negri, dia sendiri tak bisa lagi menyalurkan “tenaga kuda”.

TKI dan TKW adalah proyek warisan Menaker Sudomo di tahun 1983. Ketika ekonomi susah dan tenaga kerja mubadzir (penganggur) melimpah, negara tambah pusing. Pemerintah yang kala itu sedang “mengencangkan ikat pinggang”, sebagai Menaker Pak Domo cari solusi. Tokoh Kopkamtib yang mengaku SDSB (Sudomo Datang Semuanya Beres) itu mencoba program “ekspor” tenaga kerja ke luar negeri.

Peminatnya luar biasa. Berjuta-juta penganggur Indonesia, laki perempuan, muda dan kemampo (setengah tua), dikirim ke Malaysia, Brunei, Taiwan, Hongkong, Korsel, Jepang, dan sejumlah negara Timur Tengah. Hasilnya, menggeliatlah ekonomi anak negeri. Para TKI itu berhasil memboyong dolar, ringgit, real, won, yen; untuk mensejahterakan keluarga. Itu bisa dilihat dari bermunculannya rumah-rumah bagus di pedesaan.

Tapi tak semua TKI/TKW bernasib bagus. Seperti halnya Pudjo dari Desa Kertosari, Kecamatan Babadan itu, sejak Samini pergi jadi TKW, tak sekalipun kirim uang. Bahkan nasibnya bagaimana, tinggal di mana, tak pernah ketahuan alang ujur (posisi)-nya. Namun demikian itu masih ada harapan. Sebab sejumlah TKI/TKW benar-benar pupus harapan, karena kehilangan nyawa, akibat  pelanggaran pidana berat di negeri orang.

Maka Pudjo Kastowo ini sungguh suami sial kuadrat. Sudah rugi kantong, masih rugi pula di “entong”. Bagaimana tidak? Ketika istri jadi tenaga kerja luar negri, sebagai suami dia tak bisa lagi menyalurkan “tenaga kuda”-nya. Ini fitrah manusia. Qur’an pun menggariskan, “……Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya…..” (Surat Arrum 21).

- Advertisement -