WHO: Tahun 2050 Terjadi Krisis Air dan Pangan

266 views
Ilustrasi kekeringan di musim kemarau/ Foto: palapanews
- Advertisement -

SURABAYA – Tahun 2050 nanti, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mentakaan akan terjadi dampak perubahan iklim mengakibatkan penduduk daerah mengalami krisis air dan keamanan pangan.

Petugas Teknis Penyakit Tidak Menular (PTPTM) dari WHO, Sharad Adykary mengungkapkannya dalam acara “1st SEHAT (Seminar on Environment and Health) Toward SDG’s Achievement 2030: Integration System on Environment and Health Sustainability” di Unair, Selasa (8/11/2016).

“Berbagai penyakit telah ditimbulkan, mulai kualitas air, malnutrisi (kekurangan gizi), ketahanan pangan, hingga dampak bencana yang diprediksi bakal terjadi,” kata Sharad, sebagaimana dilansir beritajatim.

Ia memaparkan, di sejumlah negara Afrika, hasil dari pertanian tadah hujan bisa diperkirakan berkurang setengah pada 2020. “Jika tidak ada respon dan kebijakan yang efektif, perubahan iklim akan mengakibatkan keempat hal itu akan menyengsarakan masyarakat,” ungkap Sharad.

Selain itu pengendalian penyakit infeksi, pada 2030 diperkirakan populasi penderita malaria di Afrika meningkat menjadi 170 juta. “Sedangkan, pengidap virus dengue akan meningkat menjadi 2 milyar pada2080,” papar penasehat kesehatan lingkungan WHO ini.

Sementara itu, Peneliti asal Institut Teknologi Karlsruhe (KIT), Jerman, Dr. Ing. Hendro Wicaksono yang menerangkan tentang “Sustainability of Smart City in European Union” mengatakan, dulu kota-kota Eropa dikenal dengan tipe kota kebun (garden city) dan kota mandiri (broadacre city). Namun, kata Hendro, mereka sekarang bergerak ke arah future city (kota masa depan).

“Dalam future cities, ada beberapa langkah yang harus dilakukan terhadap dampak itu. Yaitu mengurangi 80 persen gas, rumah kaca 2050, penggunaan energi terbarukan sampai 80 persen pada 2050, setiap bangunan bisa mengurangi konsumsi energi sampai 80 persen, dan mengurangi emisi transportasi sampai 40 persen,” papar Hendro.

- Advertisement -