Sabtu , 25 November 2017
Home > Oase > Songkok Putih dan Songkok Hitam

Songkok Putih dan Songkok Hitam

Pada aksi 212 jumlah yang hadir di Monas dan sekitarnya, luar biasa banyaknya. Mereka berpakaian muslimah-muslim. Yang perempuan berhijab dengan bagian atasnya adalah jilbab. Untuk prianya diwajibkan baju putih tanpa leher baju dan songkok warna putih.

Biasanya yang dipakai kaum muslim adalah songkok hitam beludru. Songkok hitam kemudian diformalkan sebagai tutup kepala resmi. Para menteri ketika pelantikan berjas dan bersongkok hitam, tidak masalah apa agamanya. Songkok hitam juga kemudian dikenakan oleh banyak kaum lelaki nonmuslim. Memang tidak ada larangan untuk itu.

Songkok putih lebih dikenal di Indonesia sebagai songkok orang yang sudah pernah umrah dan atau haji. Orang yang bersongkok putih langsung mendapat sebutan “Pak Haji.” Tidak jarang orang yang bersongkok putih yang dipanggil Pak Haji itu bahkan belum pernah ke Tanah Suci. Kelaziman berubah sesuai perekembangan zaman.

Orang Indonesia yang ke Tanah Suci tidak melihat lelaki yang bersongkok hitam di sana. Kaum lelaki Indonesia yang baru satu dua hari tiba langsung mengganti songkok hitamnya menjadi songkok putih. Kadang songkok putih tersebut tidak sepenuhnya berwarna putih tapi ada hiasan-hiasan tambahan dengan warna yang berbeda.

Kalangan muslim dari Timur Tengah sampai Magribi (Maroko dan sekitarnya) tidak pernah bersongkok hitam. Yang Arab biasanya berpakaian gamis panjang dengan tutup kepala khas Arab yang berlingkaran di kepalanya, bisa bulat ataupun segi empat. Jamaah dari negeri-negeri lain, terutama Pakistan, India, dan Bangladesh bersongkok haji yang biasa kita kenal di Indonesia.

Untuk oleh-oleh sajadah biasanya yang produksi Turki dan Parsi (Iran) menjadi pilihan utama. Pekerjaannya halus dan bahannya juga bagus. Di hari-hari terakhir musim haji biasanya yang tersisa adalah bikinan Bangladesh. Apa boleh buat daripada tidak bawa oleh-oleh, dari mana pun  dibuatnya oke asal belinya di Tanah Suci.