Selasa , 21 November 2017
Home > Telisik > Harga Cabai Membubung, Ibu-Ibu Bingung
harga cabai melonjak

Harga Cabai Membubung, Ibu-Ibu Bingung

BAGI mayoritas masyarakat Indonesia, hampir tiada hari tanpa kehadiran cabai di meja makan, baik sebagai penggugah rasa pada menu-menu utama,  dihidangkan dalam aneka sambal maupun “diceplus” sebagai pendamping camilan lain.

Akibatnya, wajar saja jika ibu-ibu rumah tangga mengeluhkan naiknya harga salah satu produk tanaman palawija itu. Bahkan harga cabai di Samarinda kabarnya meroket sampai Rp250.000 per Kg,  dan di tempat-tempat lain yang jauh dari sentra produksi cabai, harganya bertengger pada kisaran Rp100.000.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita langsung meminta agar daerah sentra produksi cabai yang sedang panen untuk segera memasok wilayah lain, namun pernyataannya itu mengundang reaksi karena dikhawatirkan malah akan dimanfaatkan para spekulan untuk mempermainkan harga.

Lonjakan harga cabai dalam beberapa hari terakhir ini terjadi karena gagal panen akibat guyuran air hujan di sentra-sentra utama produksi cabai seperti di kabupaten Banyuwangi, Malang dan Tuban di di propinsi Jawa Timur, Tegal dan Brebes di propinsi Jawa Tengah, Di Aceh Barat daya, Pidie dan Gayo di propinsi Aceh dan Lombok Timur.

Harga cabai berfluktuasi juga akibat perbedaan musim panen. Di satu wilayah sedang memasuki musim panen hingga pasokan melimpah, sementara wilayah lainnya mengalami kelangkaan, diperparah lagi akibat tingginya ongkos angkut dari sentra-sentra produksi.

Di Ambon misalnya, harga cabai ikut melonjak karena tingginya ombak sehingga membuat sejumlah kapal angkut antarpulau berhenti beroperasi, sedangkan arus kendaraan angkut dari sentra produk pertanian di sekitar Banyuwangi tersendat akibat liburan panjang pergantian tahun.

Pada tingkat produksi cabai sekitar 1,2 juta ton pada 2016  dan berdasarkan konsumsi cabai 1,8 Kg per kapita per tahun atau total konsumsi sekitar 405 ribu ton,  selebihnya diserap industri makanan atau warung-warung makan, sebenarnya produksi cabai mengalami surplus.