Begawan Kilatbuwana

1.701 views
Begawan Kilatbuwana kembali ke wujud asli, Betari Durga, dan habis dimaki-maki Semar.
- Advertisement -

 

SIDANG selapanan di negeri Ngastina siang itu terasa istimewa. Selain dihadiri tamu monoton seperti Patih Sengkuni, Pendita Durna dan Prabu Baladewa, Prabu Jokopitana juga menerima kunjungan Begawan Kilatbuwono. Meski bukan dari Timur Tengah tapi begawan ini pakai gamis dan bersorban. Mungkin dia juga suka makanan menu Itali yang bernama Fitsa Hats itu.

Ternyata Begawan Kilatbuwono ke Ngastina untuk jualan ide, bagaimana mengatasi defisit APBN yang selalu terjadi dari tahun ke tahun. Katanya,  anggaran negara bisa dihemat sebanyak mungkin jika program “Perang Baratayuda” dibatalkan. Kondisi keuangan negeri Ngastina belakangan memang sedang babak belur, sehingga alokasi anggaran untuk kementrian banyak yang dipangkas. Bahkan demi maksimalisasi dana, wayang cilik pun menjadi sasaran Tax Amnesty.

“Mana bisa Baratayuda dibatalkan, itu kan sudah diamanatkan UU Kadewatan,” kata Prabu Jokopitono yang lebih suka dipanggil Prabu Jokopi itu.

“Saya kan banyak koneksi di kahyangan, khususnya para anggota DPR-nya. Kasih saja suap barang beberapa miliar, nanti pasal-pasalnya bisa diamandemen,” jawab Begawan Kilatbuwana mencoba menyakinkan.

Tapi di dunia perwayangan juga kenal istilah “tak ada makan siang gratis”. Dia siap menghandel Perang Baratayuda, tapi pakai kompensasi dikawinkan dengan sekar kedaton Ngastina, Dewi Lesmanawati. Katanya, jadi begawan hidup menyendiri terasa jadi iseng banget.

“Tapi anak saya belum dewasa, usianya baru 15 tahun.” kata Prabu Jokopitono Duryudana.

“Nggak papa. Bersama saya, nanti akan menjadi cepat dewasa, Sinuwun.” Jawab sang Begawan asal njeplak saja.

“Woo, mau jadi predator seks kamu ya? Bisa dikebiri lho sampeyan” Potong Pendita Durna keki, maklum banyak teori penguatan ekonomi miliknya dimentahkan tamu luar negeri yang bebas visa itu.

- Advertisement -