Wahyu Topeng Waja

1.844 views
Prabu SBK, tokoh panutan dari Amarta. Tapi saat bela anak (Setija) jadi blunder.
- Advertisement -

GATUTKACA yang terkenal sebagai wayang jujur, bekerja penuh dedikasi dan tak mau mbathi, ditunjuk menjadi senapati Perang Baratayuda dari kubu Ngamarta. SK Prabu Puntadewa sudah diteken beberapa hari lalu, tinggal pelantikannya saja. Sebab ada syarat khusus dari kahyangan, pengemban tugas kesenapatian harus diperkuat oleh kekancing berupa Wahyu Topeng Waja. Tanpa wahyu tersebut, posisi senapati Perang Baratayuda menjadi kurang legitimid.

Perang Baratayuda sebagai hajatan nasional tinggal 10 hari lagi, karena menunggu turunnya dana APBN dari kahyangan. Sebetulnya perang itu merupakan kepentingan Pandawa dan Kurawa semata. Tapi karena kedua negara tersebut sedang dililit utang luar negri yang serius, penguasa kahyangan siap menalangi dana sepenuhnya. Syaratnya hanya satu, penggunaan dana  harus efektif, tak boleh bocor ke mana-mana. Senapati perang selaku pengguna anggaran, harus siap diaudit sewaktu-waktu.

Sayangnya, hari H perang Baratayuda semakin mendekat, tapi wahyu Topeng Waja belum juga turun. Terpaksalah Harjuna mengurusnya langsung ke kahyangan Jonggring Salaka, ketemu Sanghyang Betara Guru di Bale Marcakunda.

”Lalu wahyu Topeng Waja kapan turunnya pukulun?” kata Harjuna tidak sabar.

”Ya kira-kira 2-3 harilah. Topengnya baru dipesan langsung ke Krakatau Steel Cilegon. Tapi ada perobahan disain yang lebih aerodinamis, karena katanya mirip kepala jangkrik.” jawab Sanghyang Betara Guru menjanjikan.

Rencana penunjukan dan pelantikan Gatutkaca sebagai senapati sudah diketahui secara persis oleh Prabu Setija dari negri Trajutrisna. Hal ini yang menimbulkan rasa iri untuknya. Sebab kali pertama usulan Gatutkaca sebagai senapati Baratayuda justru datang dari raja Dwarawati yang notabene ayah kandung Setija. Kenapa Prabu Kresna justru pikirkan orang lain, bukan anak sendiri? Padahal Setija juga sangat berminat.

Hal inilah yang menjadi ajang diskusi serius di Warung Daun daerah di kerajaan Trajutrisna. Prabu Setija curhat pada patih Pancatnyana, kenapa ketidak-adilan ini musti terjadi. Kenapa menunjuk Gatutkaca pemuda yang masih lholak-lholok belum berpengalaman? Padahal Setija jelas lebih berbobot karena sudah pernah ikut pendidikan militer dan memperoleh penghargaan Adi Rekayasa.

- Advertisement -