Olah Rasa: Resep Mudah dan Murah untuk Cegah Marah

443 views
Ilustrasi/Ist
- Advertisement -

Marah itu tidak enak. Marah bisa menyebabkan perasaan tidak enak bagi yang menjalani dan bagi yang dimarahi. Tidak percaya? Coba tilik pengalaman perasaan sendiri ketika mau dan sedang marah dan kena marah. Betul kan?

Ketika sedang marah, ada yang merasa sesak nafas atau bernafas dengan tersengal-sengal, pipi terasa panas, daun telinga panas, jantung berdetak kencang, kepala pusing dan ada pula yang mengalami kesemutan. Setiap orang punya pengalaman berbeda. Bagi pengidap hipertensi dan penyakit jantung, bisa fatal akibatnya.

Pokoknya, marah menyebabkan perasaan tidak enak bagi yang mengalami. Bagi yang kena marah, akibatnya bisa juga berbeda-beda. Tapi, karena pada dasarnya “aku” atau ego (Kromodongso/Karmiyem) setiap orang ingin selalu menang sendiri dan merasa benar sendiri, yang terkena marah umumnya juga mengalami perasaan tidak enak. Kebalikan dengan ketika sedang mendapat pujian.

Karena “aku” yang ingin selalu menang itu ada di dalam setiap orang, boleh dikatakan bahwa marah adalah hak setiap orang. Dan itu dapat berakibat buruk. Berikut ini sebuah resep yang mudah dan murah untuk mencegah marah. Resep itu sekali lagi bernama: olah rasa.

Reaksi orang yang kena marah dapat berupa ketakutan, badan gemetar menggigil, lemas,  wajah pucat,  tertegun, tidak bisa mengucapkan kata-kata (speechless). Tapi ada pula yang santai saja, tidak peduli, berlagak “blo’on” (dungu),  bahkan ada yang “cengengesan” (tertawa kecil, mengesankan meledek yang memarahi). Ada juga yang berani menunjukkan sikap marah, membantah dan menantang. Nah, yang terakhir ini bisa membuat kemarahan yang memarahi lebih menjadi-jadi. Detik itu adalah momen krusial yang bisa menyulut perkelahian.

Pemasangan cermin besar di depan pintu masuk ruangan atau di dalam ruang kerja bisa membantu juga  mengurangi potensi timbulnya kemarahan. Bisa ditiru pemasangan cermin yang ditempeli tulisan : “Sudahkah Anda rapi?” seperti di gedung-gedung instansi TNI.

Tentu, maksudnya untuk mengingatkan supaya setiap orang yang akan memasuki dan berada di ruangan itu rapi dalam penampilan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara perilaku, termasuk untuk cegah tindak pidana korupsi dan perbuatan tidak senonoh. Lebih hebat lagi, kalau pimpinan instansi itu berani pasang kamera CCTV di ruangannya dan memutar video rekamannya secara berkala bersama anak buahnya. Itu bisa menjadi hiburan yang menyehatkan.

Marah hasilkan penderitaan.

Semua tindakan dengan tujuan baik sekali pun, tentu akan lebih baik jika dilakukan tanpa marah-marah, tetapi dengan suka rela, ikhlas. Dampak negatif marah tidak hanya pada kesehatan raga, tetapi pada kesehatan jiwa. Marah itu menyiksa batin.

Orang-orang tua di kampung dulu sering memberi nasehat dengan nada menakut-nakuti: “Orang yang suka marah, panas hati, cepat mati.” Ada betulnya, kalau yang suka marah itu mengidap hipertensi dan penyakit jantung.

Menurut dokter spesialis tekanan darah tinggi, ketika seseorang sedang marah, terjadi proses kimiawi dalam cairan darah yang membuat darah mengental. Mekanisme pertahanan tubuh bekerja otomatis: pembuluh darah mengecil. Akibatnya, jumlah darah yang mengalir ke otak dengan membawa oksigen berkurang. Jantung pun harus bekerja lebih keras untuk memompa suplai darah bersama oksigen ke otak. Lha, kalau jantungnya bermasalah? Dampak ringan dari kekurangan oksigen di otak dapat berupa pusing kepala, migrain dan yang terburuk: pingsan dan stroke.

Sementara itu, seorang psikolog menasehati kliennya bahwa jika menyadari merasa mau marah, harap segera tarik nafas dalam-dalam dengan hitungan 1 sampai dengan 4, lalu tahan nafas dengan hitungan 5 sampai dengan 11 dan melepas udara. Boleh melalui hidung atau mulut, dengan hitungan 12 sampai 19. Rumusnya, 4, 5, 7. Lebih bagus lagi jika melakukan pernafasan diafragma  dengan menaruh kedua tangan di belakang leher.

Pak Kyai di kampung dulu memberi nasihat jika merasa mau marah, segera bertaubat, mohon ampun kepada Allah dengan mengucap Astagfirullah. Lalu ambil wudhu dan dirikan sholat. Insha Allah, kepala menjadi dingin dan peredaran darah normal kembali berkat adegan sholat: berdiri, rukuk dan sujud.

Para ruhaniawan dari semua agama/kepercayaan memberi  nasihat untuk memulai sesuatu dengan doa mohon keselamatan dan mengakhiri dengan doa puji syukur. Muslim diingatkan agar memulai setiap sesuatu dengan membaca Basmallah, menyebut nama Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan, mengakhirinya dengan doa puji syukur: Alhamdulillah.

Untuk menghindari kemarahan yang dapat menimbulkan perkelahian, Allah berfirman dalam Surat Al Ashr (QS:103), manusia dalam perjalanan waktu akan merugi, kecuali yang berbuat amal saleh dan saling mengingatkan untuk mencari kebenaran dengan penuh kesabaran.

Kuncinya adalah selalu dalam keadaan ingat, sadar yang dalam bahasa Jawa disebut “eling”. Ingat akan kehadiran Allah setiap saat dan tempat. Inilah yang ingin dicapai “Salikin” (para pelaku Suluk), pencari hakikat, menuju makrifat (pengetahuan tentang kegaiban Tuhan). Latihannya dengan mengheningkan pikiran (cipta) melalui pengendalian keinginan (nafsu): seperlunya, secukupnya, sebenarnya (dengan cara yang benar): halal, legal dan masuk akal.  Tujuannya untuk mencapai suasana batin yang “heneng” (diam) dan “hening” (bening), tanpa riak bergolak. Insha Allah, manusia yang sudah mencapai tataran ini tidak akan mudah marah.

- Advertisement -