Lambangkara

1.508 views
Patih Lambangkara menculik Prabu Puntadewa dengan alasan akan menerima gelar Humoris Causa.
- Advertisement -

PRABU Dewalengkara dari negri Tabelaretna sedang pusing tujuh keliling. Soalnya, nggak ada angin nggak ada hujan mendadak namanya dikait-kaitkan dengan Proyek e-KTP. Katanya, korupsi Rp 2,3 triliun dari dana e-KTP senilai Rp 5,9 trilyun itu bisa terjadi akibat dia yang menjadi dalang permainannya. Katanya, Prabu Dewalengkara masuk dalam dakwaan sidang Tipikor, karena telah menerima Rp 500 miliar lebih.

Proyek e-KTP itu sesungguhnya terjadi di kahyangan Jonggringsalaka. Prabu Dewalengkara bisa terbawa-bawa karena dia punya hubungan dekat dengan Betara Endro. Dalam dakwaan itu disebutkan, raja Tabelaretna tersebut telah menghubungkan Betara Endro dengan Edi Cileungsi, pemilik percetakan.

“Ini bagaimana, Gog? Saya hanya terima Rp 50 juta, itupun sebagai honor penyuluhan e-KTP ke berbagai daerah. Katanya itu uang korupsi. Ini aturan dari mana?” keluh Prabu Dewalengkara saat curhat pada punakawan Togog.

“Ya aturan negeri korup. Salah sampeyan sendiri mau kerjasama dengan Betara Endro. Mending akrab engan Endro Warkop, malah dapat job melawak.” jawab Togog seenaknya. Sama sekali tak ada empati pada sang boss.

Malam hari, di tengah tidurnya yang tidak bisa nyenyak, Prabu Dewalengkara bermimpi bahwa kasus yang membelit dirinya bisa diselesaikan dengan tumbal kepala Prabu Puntadewa dari negeri Ngamarta. Bila bumi negeri Tabelaretna telah tersiram oleh darah putih Prabu Puntadewa, otomatis nama Prabu Dewalengkara akan terhapus dari dakwaan dalam sidang Tipikor.

Yakin akan firasat mimpi tersebut, Prabu Dewalengkara segera panggil Patih Lambangkara untuk menjadi duta negara ke Ngamarta untuk menculik Prabu Puntadewa. Kayaknya ini bakal sukses, sebab menurut data-data yang diunduh di Mbah Google, Prabu Puntadewa itu orangnya gampang, mudah dilobi. Jika ada penolakan pasti bukan dari raja Ngamarta itu sendiri, tapi para juru pembisik di sekitarnya.

- Advertisement -