Trauma Rakyat Jepang terhadap Perang makin Pupus

1.041 views
Walau bernama Pasukan Bela Diri, kekuatan militer Jepang termasuk tercanggih di ASIA (Jakartagreater)
- Advertisement -

TRAUMA pada tragedi Perang Dunia II termuat dalam konstitusi Jepang untuk membatasi kekuatan militernya sebagai pasukan bela diri, tidak untuk terjun atau ambil bagian di kancah konflik di bagian dunia mana pun.

Konstitusi pasifis itu lah yang berhasil mengantarkan Jepang menjadi macan Asia dan salah satu raksasa ekonomi dunia, karena anggaran belanja negara tidak banyak tersedot untuk membangun kekuatan militer.

Jika ada musuh yang akan menyerang pun, ribuan anggota pasukan AS bersama armada laut dan udara yang ditempatkan di wilayah Jepang siap menangkalnya sesuai perjanjian yang dibuat AS-Jepang pasca PD II.

Namun walau bernama pasukan bela diri (JSDF), Jepang juga tidak bisa dipandang  sebelah mata, karena berkat kemajuan teknologinya, negara itu juga memiliki alutisista canggih termasuk kapal perang, tank-tank dan sebagian pesawat tempur yang diproduksi sendiri.

AL pasukan Bela diri Jepang paling tidak memiliki tiga kapal induk helikopter, 47 kapal perusak dan 17 kapal selam, AU-nya didukung 400- an pesawat tempur tercanggih buatan AS F35 Lightning, sementara di darat AD-nya mengoperasikan tank tempur utama (MBT) T10 buatan dalam negeri..

Untuk menghadapi potensi serangan rudal dari Korea Utara, JSDF menggelar sistem rudal anti rudal Patriot buatan AS.

Rasa trauma akibat perang terutama tewasnya ribuan korban akibat dijatuhkannya bom atom oleh AS di Hiroshima dan Nagasaki di penghujung   PD II pada l945, agaknya perlahan-lahan lekang dimakan waktu.

Buktinya, dalam jajak pendapat di TV Nikkei (3/5), walaupun masih kalah jumlahnya dari yang tetap ingin mempertahankan konstitusi pasifis, tren rakyat Jepang yang menghendaki amandemen UUD  semakin meningkat.

Jumlah pendukung perubahan pasal 9 konstitusi mencapai 45 persen, atau naik lima persen dibandingkan jajak serupa tahun sebelumnya atau selisihnya tidak tertaut terlalu lebar dibandingkan yang ingin mempertahankan konstitusi yakni 48 persen dari responden.

- Advertisement -