Jumat , 15 Desember 2017
Home > Oase > Ramadhan, Bulan Pendidikan untuk Kesalehan Ritual dan Sosial
Masyarakat menjalankan ibadah di Masjid Raya Bogor saat bulan Ramadhan/KBK

Ramadhan, Bulan Pendidikan untuk Kesalehan Ritual dan Sosial

Bulan Ramadhan sering disebut sebagai bulan tarbiyah (pendidikan) bagi muslimin dan muslimat. Bulan latihan untuk mengendalikan hawa nafsu, yang dipicu oleh cipta, rasa, karsa (pikiran, perasaan dan kehendak) yang mewujud dalam budi (laku/tindakan) manusia.

Bentuk latihan itu adalah berpuasa atau berpantang makan, minum, dan melakuan hubungan kelamin antara suami istri pada waktu siang hari. Mulai dari azan Subuh hingga azan Magrib, selama satu bulan penuh.

Latihan ini dilengkapi dengan laku atau tindakan memperbanyak amal saleh. Memperbanyak ibadah kepada Allah, juga amal sosial kepada sesama makhluk Tuhan dalam rangka mengamalkan trilogi “hablun  minallah, hablun minanas dan hablun minal ‘alam” (hubungan kepada Allah, manusia dan alam)  sebagai sarana mewujudnya rahmat Allah untuk seluruh isi alam semesta (rahmatan lil alamin).

Tujuan latihan puasa Ramadhan adalah agar mampu meniru akhlak mulia (akhlakul kharimah) Nabi Muhammad Rasulullah Saw. Akhlak mulia itu adalah shidiq, tabligh, amanah dan fathonah (benar/jujur, mendidik, dapat dipercaya dan arif/bijak).

“Rasulullah terkenal sebagai seorang pendidik, pemaaf, bukan pendendam, suka berderma, tidak mudah putus asa, tetapi bersikap tegas untuk mendidik,” kata Ustadz Iin Syamsudin sebagai khatib dalam kutbah Jumatmya di masjid kompleks perumahan Bina Marga,  Cipayung, Jakarta Timur, sehari sebelum bulan Ramadhan lalu.

Agar bisa mewarisi dan meneladani akhlak mulia Rasulullah, pengendalikan cipta, rasa, dan karsa serta budi, harus dijalani dalam perilaku sehari-hari, sepanjang masa, tidak hanya dalam bulan puasa.

Pikiran perlu dikendalikan, karena apa yang dipikirkan akan dikatakan. Perlu puasa berkata, yakni hanya berkata yang benar dan baik. Bila perlu, tidak diobral sepanjang tempat dan waktu. Perkataan perlu dikendalikan karena apa yang dikatakan akan dilakukan atau menjadi perbuatan/tindakan. Perbuatan perlu dikendalikan, karena perbuatan akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan perlu diperhatikan atau dikendalikan, karena perbuatan akan menjadi karakter. Dan, karakter bisa menentukan nasib seseorang.