Sabtu , 25 November 2017
Home > Citizen Journalism > Warna-warni Anak Mualaf di Kepulauan Meranti
Anak-anak mualaf di kepulauan Meranti merayakan lebaran pertama mereka. Foto: Ist

Warna-warni Anak Mualaf di Kepulauan Meranti

Di dunia ini ada beraneka warna yang membuat kita terpukau memandangnya. Warna itu ada tujuh rupa. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Di langit, kala hujan disertai sinar matahari, kita akan menyaksikan indah pelangi yang dikombinasikan oleh ketujuh warna yang ada di bumi ini. Sungguh indah di pandang, namun hanya sejenak. Harapan kita, semoga warna kehidupan yang kita jalani saat ini memiliki warna yang indah, tapi tidak bersifat sementara.

Di sini, di dusun Bandaraya tepatnya, di huni oleh minoritas agama Islam. Dari 66 kepala keluarga di dusun ini hanya 2 kepala keluarga yang menganut agama Islam. Ditambah dengan 7 anak-anak mualaf. Anak-anak ini dimualafkan pada tanggal 23 Februari yang lalu. Pada saat peresmian Mesjid Darul Islami Madani. Hingga saat ini lebih kurang dusun Bandaraya di huni oleh 15 orang yang beragama islam.

Minoritas bukan harga mati. Secercah cahaya pun sangat berguna sebagai penerang di kala kegelapan, setetes embun juga bisa menyejukkan dahaga bagi ulat, burung dan binatang sejenisnya. Begitu juga yang dirasakan anak-anak mualaf. Saya selaku KAWAN SLI berperan penuh untuk memberi warna ramadhan kali ini. Memang benar sebelumnya belum pernah ada kegiatan salat tarawih dan witir berjamaah di dusun ini. Warga yang menganut agama islam terpaksa salat tarawih dan witir di mesjid desa sebelah yang cukup jauh.

Kali ini dusun Bandaraya penuh warna serta cahaya. Anak-anak mualaf bersemangat untuk menunaikan ibadah puasa. Mereka hampir 24 jam tinggal bersama saya. Menu sahur serta berbukanya saya yang menyediakan. Saya yang hanya baru dipenempatan ini belajar memasak harus cekatan untuk menyajikan menu yang spesial untuk anak-anak. Berusaha keras agar anak-anak menikmati masa berbuka serta sahurnya.

“Pak, saya air susunya yang pake gelas besar, Pak”, ujar Amzah dengan wajah tidak sabaran untuk berbuka. “Kenapa? Yang lain memakai gelas kecil”, kilah saya tidak sepakat. “Gelas kecil mana cukup, Pak. Minum saya banyak”, lantas ia tidak terima. Singkat cerita saya mengalah, membiarkan Amza minum dengan gelas besar. Ia pun mengambil sederet makanan yang disajikan ke hadapannya. Seolah-olah makanan itu adalah milik dia. Dan akan habis ia lahap sekali duduk saja. Saya hanya memerhatikannya dengan tersenyum sembari memahami.

Tidak kalanya dengan 4 orang anak mualaf lainnya. Mereka juga berpendapat semua makan yang dihidangkan kala berbuka itu akan habis ia lahap. Detik berbilang menit, waktu berbuka telah tiba. Di awali dengan membaca doa berbuka secara bersama, satu persatu anak-anak mualaf sudah menyerbu makanan yang dihidangkan. Menyantap dengan cara acak, tidak terpungkiri celoteh sana-sini antara mereka.

Mereka akhirnya kekenyangan. Saya mengajak mereka salat magrib berjamaah. Pertama ia protes, meminta untuk salat sendiri-sendiri saja. Saya tidak terima, resiko sendiri kenapa berbukanya terlalu berlebihan. Sesuap nasi pun belum masuk ke perut mereka, hanya air es serta beraneka macam menu berbuka. Tapi sudah kekenyangan.

Seusai salat magrib, I’som berdiri. Terdengar bunyi air di dalam perutnya yang berkeciprak. Sontak kami semua tertawa. Ia pun ikut tertawa. “Besok jangan terlalu banyak minum esnya. Sisakan di lambungmu untuk sepiring nasi!” mereka tetap tertawa, tapi mengiyakan apa yang saya sampaikan.

Warna-warni ramadhan terus berlanjut. Saat anak-anak dianjurkan untuk belajar ceramah singkat 7 menit. Kali ini Amza berani tampil paling pertama. Anak kita yang satu ini memang punya nyali yang luar biasa. Ia berceramah seolah berlagak ustads dengan judul “Rukun Islam”. Malam itu berakhir dengan salat tarawih dan witir yang saya imami langsung.

Sebenarnya lucunya bukan sesi ceramah itu sendiri. Tapi pada saat puasa hari pertama. Malamnya kami tidak sempat sahur karena alarm yang saya atur tidak berbunyi. Atau memang belum terbiasa bangun jam segitu dan akhirnya tidak terbangun. Siang harinya anak-anak sudah merasakan lapar semenjak pukul 10 pagi. Mereka merengek-rengek untuk mengurungkan berpuasa. Namun saya terus menghibur mereka dengan berbagai candaan.

Waktu ashar telah tiba. Amzah bertugas menjadi bilal. Ia azan dengan khitmahnya. Namun tanpa dikata, tidak diduga-duga sebelum ia menyelesaikan tugasnya manjadi bilal, ia tersungkur ke depan. Terkapar di lantai. Saya panik dan segera menghampiri. Beberapa detik matanya terpejam. Lalu saya mencoba mengangkat tubuhnya, “hitam pandangan saya, Pak”, sambil ia tertawa. Kami langsung ketawa secara bersamaan. Azan azhar kali ini tidak selesai seperti azan-azan sebelumnya.

Warna warni itu selalu ada sampai puasa yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Celoteh anak-anak waktu berbuka masih terdengar riuh. Saat sahur pun tidak kala menyenangnya, berbagai tingkah anak-anak yang sulit untuk dibangunkan. Sampai-sampai saya menggelitik pinggangnya hingga terbangun.

Cek-cok antara mereka akan terus mengudara di seantero Bandaraya ini. Pertengkaran kecil mereka yang tidak terima selalu bertugas mencuci piring setiap usai berbuka dan sahur. Walau sebenarnya jadwalnya sudah disepakati jauh-jauh hari sebelumnya. Ah..sampai kapan aku menikmati riuh canda mereka. Pertengkaran yang merindukan untuk esok hari.

”Terus tumbuh, Nak. Kelak kamu adalah pemimpin dakwah di dusun ini. Teruslah berpegang teguh pada agama kita, meski bagimu ini adalah hal yang baru. Saya yakin kamu akan menebarkan kebermanfaat umat kelak. Amin” pekikan cinta saya ketika gelap melanda diri dikarenakan waktu lampu menyala telah berakhir.

Redovan Jamil, Kawan Sekolah Literasi Indonesia, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, bertugas di Pulau Ransang, Kabupaten Kepulauan Meranti.