Apa Yang Kau Cari, Mulyadi?

264 views
Kasihan Mulyadi, akibat teracuni paham radikal lewat internet, jadi mati sia-sia.
- Advertisement -

BAGI Indonesia nama Mulyadi sangat ombyokan. Tapi ketika polisi mencari indentitas asli terduga teroris bernama Mulyadi, belum juga ditemukan. Banyak tokoh penting bernama Mulyadi, tapi Mulyadi yang dari Cikarang Bekasi, sebetulnya apa yang kau cari? Sudah enak jadi pedagang parfum, kenapa belagu ikutan jadi teroris segala? Akhirnya, nyawa pun wasalam tiada guna dan tanpa bermakna.

Nama adalah bagian dari doa. Maka orangtua selalu memberi nama-nama bagus pada anaknya, dengan harapan si bayi kelak bernasib bagus. Jika orangtua memberi nama Mulyadi, pasti berharap putra lelakinya itu kelak akan menjadi manusia yang mulia dan adi.  Kehidupannya serba dimuliakan Allah Swt, berguna bagi nusa, bangsa, agama, orangtua dan mertua.

Karenanya tak mengherankan, di negeri ini Mulyadi merupakan nama pasaran. Lihat di buku telpon PT Telkom, ombyokan orang bernama Mulyadi. Banyak tokoh terkenal yang bernama itu. Misalnya Mulyadi Djojomartono, Mensos era Presiden Sukarno (1959-1962). KSAL Laksamana Mulyadi (1966-1969), juga Mulyadi (Ang Tjing Siang) pemain bulutangkis yang ikut memperkuat tim Thomas Cup tahun 1961, 1964, 1967, dan 1970. Dan kini yang sedang naik daun karena banyak gebrakannya, adalah Dedy Mulyadi Bupati Purwakarta.

Mereka adalah nama-nama harum, yang punya andil besar bagi negara. Tapi Mulyadi yang jadi terduga teroris dan akhirnya mati ditembak polisi di Kebayoran Baru, justru mau bikin kacau negara. Mulyadi yang jadi teroris ini, sungguh mengkhianati harapan orangtua. Sudah tenang menjadi pedagang kosmetik di pertokoan Roxy Bekasi, kena pengaruh paham radikal lewat internet (lone wolf) sehingga mau dijadikan teroris segala.

Jika orangtuanya masih hidup, pasti mereka malu anak hasil produksinya malah memusuhi negaranya sendiri. Mulyadi sepertinya tidak mau tahu bagaimana para pendahulu kita mendirikan negara. Tinggal mengisi kemerdekaan itu sesuai profesi masing-masing, kok tidak mau.

- Advertisement -