Selasa , 25 Juli 2017
Home > Pakeliran > Jakapitana Wisuda
Jadi raja Ngastina kena vertigo melulu, Destarata menyerahkan kekuasaan pada anaknya, Jakapitana.

Jakapitana Wisuda

LANTARAN bermata buta, meski putra sulung Prabu Abiyasa, Destarata tak bisa menjadi raja Ngastina. Merujuk pada Civic atawa Ilmu Tata Negara, ini bisa disebut “berhalangan tetap”. Karena itulah tampuk pemerintahan Ngastina kemudian diberikan kepada Pandu. Tapi jikalau sedang  milik, rejeki Destarata bisa datang dari mana saja.  Tiba-tiba Pandu meninggal “serangan jantung” saat hubungan intim dengan Madrim istri keduanya, gara-gara minum viagra. Mengingat anak-anak Pendhawa masih kecil, Destarata kemudian didaulat menjadi Pjs raja.

Yamawidura putra yang lain Abiyasa, sesungguhnya lebih kafabel sebagai Pjs negeri Ngastina, karena hanya pincang kaki. Tapi dia menolak jabatan tersebut, dengan alasan ingin lebih fokus sebagai Hakim Agung Ngastina. Maklum, instansinya belakangan banyak dibelit kasus. Sejumlah hakim ditangkap KPK karena sogok, tapi ada pula hakim wanita yang mesum dengan PIL-nya ditangkap di hotel melati.

“Bener nih, kamu rela aku menjadi Pjs Ngastina? Nanti kamu diam-diam sewa pendemo bayaran?” selidik  Destarata yang kini pakai embel-embel: prabu.

“Enggaklah, suwer! Saya mau fokus jadi Hakim Agung yang killer saja, sehingga para koruptor ketakutan.” jawab Yamawidura terus terang.

Yamawidura ingin meniru langkah hakim Agung Artijo Alkostar, yang bikin mati kutu para pencoleng uang negara. Terpidana kasasi, langsung divonis 2 kali lipat dari hukuman semula. Karenanya di kalangan koruptor perwayangan, Yamawidura dianggap penjelmaan Yamadipati dewa pencabut nyawa. Koruptor ketemu Yamawidura, ampun dah! Anak putu aja melu-melu (anak cucu jangan ikutan).

Destarata pun merasa lega, karena tak ada rival politik dalam pemerintahannya. Cuma yang bikin resah raja baru ini, adalah Dewi Gendari  sang istri. Setelah statusnya naik sebagai Ibu Negara, dia jadi kemaruk kekuasaan. Apapun kebijakan Prabu Destarata, dia intervensi. Kongkalikong dengan Patih Sengkuni si adik sendiri, banyak SK Prabu Destarata yang dipelintir demi kepentingan kroninya. Pendek kata, segala kekurangan Pjs Ngastina justru bisa disulap menjadi “mesin uang” Sengkuni – Dewi Gendari.