Selasa , 21 November 2017
Home > Oase > Komunikasi : Dokter Hewan Lebih Pandai dari Dokter Umum
ilustrasi/ist

Tulisan I

Komunikasi : Dokter Hewan Lebih Pandai dari Dokter Umum

Dok: Merdeka

SETIAP awal pemeriksaan seorang dokter umum, spesialis  atau bukan, biasanya  bertanya kepada pasiennya: “Sakit apa  atau ada keluhan apa Pak/Bu (Mas/ Dik)? Sementara itu, seorang dokter hewan (drh.) akan langsung periksa dan ambil tindakan. Alasannya, kalau pun bertanya kepada kucing, anjing, burung, kuda atau hewan lainnya yang akan diperiksa pasti tidak mendapat jawaban.

Kenyataan itu membuat seorang pelawak mengambil kesimpulan sederhana: dokter hewan lebih pandai daripada dokter umum (manusia). Kalau pun harus bertanya, yang ditanya dan akan memberi jawaban adalah pemilik atau pengantar hewan yang sedang perlu perawatan dan pengobatan.

Singkat kata, komunikasi adalah penyampaian pesan secara timbal balik. Pertanyaan akan mendapat jawaban, jika yang ditanya dapat menangkap dan tepatnya memahami maksud pertanyaanya, baik secara utuh, sebagian, secara benar/tepat atau pun tidak. Jika salah tangkap, yang terjadi adalah salah faham atau miskomnunikasi. Dampaknya, bisa fatal.

Komunikasi mempunyai peranan penting dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan pergaulan antara bangsa dan negara dengan latar belakang sistem politik, ekonomi, sosial dan budaya yang berbeda. Perang bisa terjadi karena miskomunikasi.

Komunikasi antara dokter dan pasien memegang peranan vital, karena bila terjadi miskomunikasi bisa berakibat fatal: keselamatan nyawa taruhannya! Miskomunikasi bisa dihindari jika terdapat saling memahami antara kedua belah pihak, yakni dokter dan pasien.

Berkat pendidikan khusus profesi medis, dokter secara status sosial, ekonomi dan budaya  lebih tinggi daripada pasien rata-rata. Ada gap (jurang) antara dokter dan pasien, terutama di bidang disiplin ilmu pengetahuan kedokteran.

Secara psikologis, pasien dan keluarganya karena membutuhkan pertolongan menempatkan diri lebih rendah daripada dokter. Apalagi, pasien yang dalam kondisi sakit parah, harapan akan kesembuhan dan keselamatan jiawanya lebih besar. Karena ini sang pasien dan keluarganya lebih pasrah dan lebih percaya kepada kata-kata dokter. Yang penting sembuh dan selamat jiwanya, berapa pun biayanya.

Dok: RMOLSumsel

Yang Lebih besar  lagi ketergantungannya kepada dokter adalah pasien dan keluarga yang berasal dari keluarga miskin (dhuafa). Harapan sembuh pasien yang miskin sama dengan pasien yang lebih beruntung secara ekonomi (kaya). Pasien dari keluarga miskin menghadapi kekhawatiran  akan ketidaksembuhan dan kematian serta dihantui juga oleh ketakutan karena tidak mampu menanggung biaya pengobatan.

Pasien miskin lebih tergantung kepada pertolongan dokter baik dari segi kemampuan professional medis maupun belas kasihan soal biaya. Tapi demi kesembuhan, pasien (dan keluarganya) , baik kaya maupun miskin, rela membayar berapa pun. Alasan klasik yang sering terdengar adalah: “Nyawa tidak ternilai harganya, uang masih dapat dicari lagi, tapi kalau nyawa yang pergi, ke mana mau mencari penggantinya…?

Karena itu kata-kata dokter ibarat sabda atau titah raja bagi pasien, yakni cenderung dituruti. Misalnya, harus menjalani sejumlah tes dengan alat kedokteran tercanggih, rawat inap, tindakan operasi dan beli obat yang diresepkan. Untuk tindakan yang mengandung risiko, sudah ada ketentuan harus ada persetujuan dari pasien (dan keluarganya), yang dikenal sebagai “informed consent”.

RS Aka Medika Sribawono Lampung / DD

Pada saat kritis, siapa yang sempat membaca dengan cermat kata-kata dalam formulir informed consent itu. Umumnya orang cenderung langsung tandatangan sebagai tanda persetujuan siap menanggung risiko apa pun atas tindakan itu.

Demikian juga dengan resep obat. Tidak semua orang bisa membaca dengan gampang bunyi resep itu, hingga ada lelucon begini: “Hanya dokter, apoteker dan Tuhan yang dapat membaca resep dokter!” Juga informasi tentang obat umumnya tertulis dalam bahasa yang terlalu akademis dengan rumus-rumus kimia yang tidak mudah difahami sembarang orang. Belum lagi, di samping bahasa Indonesia, disajikan informasi dalam bahasa Inggris (dan Cina), sesuai negara asal perusahaan produsen obat (dan juga bahasa Arab, mungkin untuk pengguna jasa yang kurang bahasa Indonesia dan biar lebih afdhol). – Bersambung