JAMUS KALIMASADA MURCA

1.761 views
Burisrawa kaget. ketemu Semar lagi, Semar lagi.Minggu kemarin item, kini merah jambu.
- Advertisement -

DALAM usia 45 tahun dewasa ini, Raden Burisrawa terus saja jomblo, hidup membujang berkepanjangan. Tidur sendiri, makan sendiri, mencuci juga sendiri; macam Rinso. Di rumahnya di kompleks BTN Cindekembang Permai, putra Prabu Salya dari Mandaraka itu kerjanya hanya muter kaset lagu lamanya Kus Plus, “Begini nasib jadi bujangan, ke mana-mana asalkan suka tiada orang yang melarang, ….hati senang walaupun tak punya uang…….”

Wanita cantik bukanlah cuma Wara Sembadra, tapi Raden Burisrawa sudah kadung cinta setengah mati pada putri Mandura yang kini dipersunting Harjuna. Maka meskipun banyak wanita yang mau dipersunting, Burisrawa tetap bergeming. Dia juga curiga, mau dengan dirinya bukan karena cinta, tapi naksir harta dan aset-aset miliknya.

“Mereka semua gadis bau bensin. Kalau aku sudah miskin dan tua, pastilah ditinggalkannya,” kata Burisrawa.

“Calon raja Mandaraka, mana mungkin bisa miskin, Mas?” hibur wartawan yang mewancarainya.

Yang sedih, prihatin dan bisa memahami, tak hanya keluarga dekat, tapi juga Patih Sengkuni dari negeri Ngastina. Jagad ora mung sagodong kelor, katanya. Contoh itu Sarjokesuma putra Prabu Duryudana, meski gagal persunting Pregiwa terus coba-coba melamar putri yang lain. Atau kalau mau lebih elit, tirulah Khofifah Indarparawansa dari negeri tetangga Indonesia, meski dua kali gagal nyagub, masih pengin maju lagi di 2018.

“Atau kamu pengin Putri Solo yang lakune kaya macan luwe? Bilang sama aku, nanti Sengkuni yang siap melamar.” Hibur patih Ngastina tersebut.

“Perempuan lain aku tak lagi bernafsu. Cintaku kadung diborong habis oleh Wara Sembadra, paman.” Jawab Burisrawa tanpa ekspresi.

“Kalau begitu kamu nunggu dia jadi janda? Tapi kapan, kayaknya matinya duluan kamu.” Ledek Patih Sengkuni.

- Advertisement -