Selasa , 26 September 2017
Home > Oase > Komunikasi : Dokter Juga Manusia
ilustrasi

Tulisan II

Komunikasi : Dokter Juga Manusia

Dokter adalah manusia juga. Artinya, dokter bisa salah, lupa dan tergoda untuk menumpuk harta. Demikian juga rumah sakit, yang konon ditengarai sudah terjangkit penyakit praktik bisnis/komersial  biasa.

Karena sadar akan kenyataan itu, maka dibuat Undang-undang Praktek Kedokteran (No 29, tahun 2004), yang kemudian melahirkan Konsil Kedokteran  Indonesia (KKI), yang secara tugasnya meliputi: 1). Perlindungan untuk pasien,  2). Meningkatkan kwalitas pelayanan medis, dan 3). Memberi kepastian hukum kepada masyarakat, pasien dan dokter.

Tetapi KKI yang sering disebut-sebut mitra setara Kementerian Kesehatan, kenyataannya masih perlu dibuat lebih “bergigi dan bergizi”. Bergigi, maksudnya KKI harus punya kekuasaan untuk menindak (represif), jika terjadi penyimpangan pelayanan kesehatan yang melibatkan dokter dan pasien. Bergizi, maksudnya  KKI perlu diberi anggaran yang memadai untuk membeli perlengkapan dan membiayai personil dan program kerjanya. Kenyataannya, KKI masih tergantung kepada Kementerian Kesehatan.

Sebagai lembaga yang belum cukup bergigi dan bergizi, KKI perlu didampingi relawan pendamping pasien dalam hal berkomunikasi dengan dokter (plus rumah sakit, apotik dan pabrik obat) dan relawan pembela hak pasien jika terjadi kasus hukum.

Jarang terdengar penindakan terhadap dokter yang melanggar UU Praktek Kedokteran, apalagi jika terjadi malpraktek. Solidaritas antara dokter sebagai teman sejawat sangat kuat (untuk melindungi). Karena itu, dalam KKI duduk anggota yang mewakili publik (lay person).