Sabtu , 25 November 2017
Home > Berita Khas > Pengungsi Rohingya Perlu Bantuan Secepatnya
Kam Pengungsi sementara bagi pengungsi Rohingya di Cox Bazar, Banglades

Pengungsi Rohingya Perlu Bantuan Secepatnya

RATUSAN ribu pengungsi etnis muslim Rohingya asal Negara Bagian Rakhine, Myanmar yang terdampar di tapal batas Myanmar dan Banglades akibat perburuan pasukan pemerintah memerlukan bantuan segera.

Para pengungsi, menurut Jubir UNHCR, Vivian Tan, sebagian kaum perempuan, manula dan anak-anak, dalam kondisi lelah, kelaparan, kehausan serta kekurangan asupan nutrisi setelah menyusuri hutan dan rawa-rawa, menembus bukit dan lembah puluhan kilometer.

Warga Rohingya berusaha menyelamatkan diri dari aksi balas dendam pasukan pemerintah Myanmar yang membakari rumah-rumah dan membunuh warga sipil pasca penyerangan terhadap 30 pos polisi dan militer oleh milisi Pasukan Pengawal Rohingya (ASRA) 25 Agustus lalu.

Derasnya arus pengungsi dari wilayah Rakhine sangat membebani perekonomian Banglades yang harus menghidupi 160 juta penduduknya dan yang sampai kini masih berstatus negara miskin.

Sebelum konflik terakhir pecah saja, Banglades sudah menampung sekitar 400.000 pengungsi Rohingya di kam penampungan pengungsi sementara di kawasan Cox’s Bazar, di dekat perbatasan dengan Myanmar.

Pasca bentrokan antara milisi Pasukan Pengawal Rohingya (ASRA) dan pasukan Myanmar 25 Agustus lalu, Banglades kebanjiran 300.000 pengungsi baru yang mengalir masuk dari tapal batas dalam kondisi lapar, gizi buruk atau sakit.

Otoritas keamanan Banglades mencemaskan, kehadiran pengungsi Rohingya akan dimanfaatkan oleh kelompok militan untuk merekrut anggotanya dan menyusup di tengah tragedi kemanusiaan yang terjadi.

Selain itu dikhawatirkan pula, para pengungsi Rohingya akan merembes ke wilayah-wilayah lain di Banglades sehingga berpotensi memicu konflik horizontal dengan warga setempat.

Pemerintah Banglades mengusulkan pembentukan zona aman di wilayah Myanmar guna mencegah mengalirnya pengungsi baru, namun diragukan bakal diterima oleh pemerintah Myanmar yang menganggap etnis Rohingya sebagai pendatang haram.