Selasa , 26 September 2017
Home > Telisik > Publik Khawatir, Tragedi Rohingya (Bisa) Terjadi di Indonesia
Masyarakat harus waspada ada yang ingin menggiring isu Rohingya ke dalam isu SARA di Tanah air (kumparan.com)

Publik Khawatir, Tragedi Rohingya (Bisa) Terjadi di Indonesia

MAYORITAS publik khawatir, konflik yang menyebabkan tragedi kemanusiaan terhadap etnis minoritas muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar juga bisa terjadi di Indonesia.

Hal itu tercermin dari jawaban lebih dari separuh atau 53,3 persen responden dalam jajak pendapat harian Kompas di 12 kota besar di Indonesia antara 6 sampai 8 September, diikuti 459 responden berusia minimal 17 tahun.

Bahkan 29,2 responden merasa sangat khawatir, sedangkan 17 persen merasa tidak khawatir, sedangkan sisanya 0,5 persen tidak menjawab atau tidak tahu.

Kecemasan publik bisa dimengerti, mengingat isu-isu SARA memuat hoaks, ujaran kebencian, fitnah, permusuhan dan intoleransi satu sama lain merebak dan ramai di media sosial akhir-akhir ini.

Isu-isu SARA yang menyulut perpecahan dan merusak persatuan bangsa juga mencuat di tengah proses pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu walau maih beruntung pada hari “H” dan pasca pilkada, suhu politik yang sempat memanas kembali normal.

Ada saja pihak-pihak yang berusaha menggiring isu Rohingya menjadi pertentangan SARA, misalnya dengan rencana penyelenggaraan unjukrasa mendukung Rohingya di kawasan candi Borobudur,salah satu ikon sejarah kebesaran bangsa Indonesia yang juga tempat suci umat Budha.

Untuk mencegah agar konflik seperti di Myanmar tiak terjadi di Indonesia, 46,2 responden menjawab perlu menjaga toleransi antarwarga, 20 persen menganggap penting menciptakan keadilan sosial dan ekonomi.

Sebanyak 19,5 persen responden mengangggap perlu upaya mencegah provokasi SARA dan 12 persen berharap penegakan hukum dan tertib sosial, 0,2 persen mengingatkan pentingnya sosialisasi Pancasila dan 1,9 persen tidak menjawab.

Menjawab pertanyaan lainnya pada jajak pendapat itu, 51 persen responden puas atas sikap pemerintah RI menyikapi konflik Rohingya,37,7 persen tidak puas, 6,4 persen sangat puas dan 4,9 persen tidak menjawab atau tidak tahu.