Selasa , 21 November 2017
Home > Berita Khas > Kasus Debora: RS Mitra Keluarga Cuma Lalai?
Kematian bayi Debora (3/9) diduga akibat ditolak oleh pihak RS Mitra Keluarga karena alasan biaya adalah kasus layanan RS kesekian kalinya di negeri ini (tribunenews)

Kasus Debora: RS Mitra Keluarga Cuma Lalai?

HASIL kesimpulan sementara Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebutkan, manajemen RS Mitra Keluarga (RSMK), Kali Deres, Jakarta Barat melakukan dua kelalaian dalam kasus kematian bayi berusia empat bulan, Debora (3/9).

Hal itu disampaikan Kepala Dinkes DKI Jakarta Koesmedi Priharto seusai pertemuan antara pihak Dinkes DKI Jakarta, manajemen RS Mitra Keluarga dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial  (BPJS) Jakarta Barat dan Badan Pengawas RS, Senin (11/9).

Untuk selanjutnya, Dinkes DKI Jakarta berjanji akan melakukan investigasi lanjutan terkait kasus ini termasuk dengan menemui orang tua Debora.

Kelalaian pertama, ujar Koesmedi kepada wartawan, komunikasi antara petugas informasi dan keluarga pasien (pasangan suami-isteri Rudianto Simanyorang (47) dan Henny Silalahi (37) tidak berjalan mulus saat pasien tiba di RS dalam kondisi  kritis.

Menurut Koesmedi, sejak awal seharusnya pihak RSMK menanyakan cara pembayaran biaya perawatan, karena kemudian baru diketahui bahwa orang tua  Debora memiliki kartu BPJS.

Apa yang disampaikan Koesmedi agaknya merupakan upaya untuk mereduksi kesalahan fatal pihak RSMK yakni mengabaikan kewajiban kemanusiaan untuk menyelamatkan pasien dalam kondisi kritis sesuai azas dan tujuan penyelenggaraan RS.

Sudah menjadi rahasia umum di negeri ini, yang pertama ditanyakan saat pasien tiba di RS adalah pihak atau keluarga yang bertanggungjawab atas biaya perawatan dan juga cara pembayarannya, termasuk melunasi uang muka.

Rasanya juga tidak lazim seorang kepala dinas kesehatan, tidak mengejar dengan pertanyaan berikutnya jika pihak RSMK mengaku tidak menanyakan hal itu pada  keluarga pasien.

Buktinya, nyawa Deborah tidak tertolong lagi setelah pihak RSMK menolak menanganinya di ruang layanan intensif bagi anak-anak (Pediatric Intensive Care Unit – PICU) karena orang tuanya tidak mampu membayar uang muka Rp11 juta.