Selasa , 26 September 2017
Home > Ragam > Saya Rahimol, Saya Rohingya
Rahimol, 22, warga Rohingya. Foto: Al Jazeera

Saya Rahimol, Saya Rohingya

BANGLADESH – Rahimol, 22, berasal dari desa Foira, Negara Bagian Rakhine, Myanmar, ia melarikan diri beberapa minggu yang lalu.

Nama saya Rahimol Mustafa dan saya berusia 22 tahun. Sebelum sampai di sini, saya adalah seorang siswa di madrasah (madrasah) di kampung saya. Saya sangat menikmati pelajaran agama saya dan terkadang saya juga membantu mengajar anak-anak yang lebih muda, karena kebanyakan orang di tempat tinggal saya tidak berpendidikan.

Saya bercita-cita menjadi seorang guru dan saya sangat senang di desa saya Foira, sampai militer Myanmar datang.

Saat itu jam 3 pagi ketika militer mulai menembakkan senjata mereka ke desa kami dan membakar rumah kami. Kami tidak bisa meninggalkan rumah karena jika mereka melihat kami mereka akan menembak, maka kami bersembunyi di dalam.

Akhirnya, mereka sampai di rumah kami dan mulai menembaki senapan mereka melalui jendela, sebuah peluru menyasar dengkul saya. Banyak orang dari desa kami yang tewas malam itu. Saya sendiri melihat tiga tetangga saya dibantai.

Ayah dan saudara laki-laki saya membawa saya ke rumah sakit untuk perawatan medis, tapi rumah sakit tidak mau menerima saya karena alasan keamanan, jadi kerabat saya membawa saya ke Bangladesh. Mereka membawa saya melewati pegunungan untuk menghindari militer.

Pelarian saya adalah perjalanan yang sangat panjang dan menyakitkan. Luka saya menjadi infeksi.

Saya merasa sangat sedih karena pelarian itu, satu-satunya yang bisa dibawa keluarga saya hanyalah saya, kami meninggalkan segalanya.

Saya bersyukur, kami telah mencapai tempat aman Bangladesh dan saya telah menerima beberapa bantuan medis dari MSF [Dokter Tanpa Batas] , yang sering dikenal dengan inisial bahasa Prancis, namun kami tidak memiliki tempat tinggal dan tidak memiliki masa depan.