Selasa , 26 September 2017
Home > Telisik > Pesan Kerukunan antar Etnis dari Singapura
Halimah Yacob diangkat sebagai presiden ke-8 sekaligus presiden wanita pertama Singapura mewakili etnis Melayu (sindo Intl).

Pesan Kerukunan antar Etnis dari Singapura

TERPILIHNYA mantan ketua parlemen Singapura Halimah Yacob sebagai presiden ke-8 sekaligus presiden wanita pertama di negara jiran itu bisa disebut sebagai cermin keguyuban atau kerukunan serta semangat toleransi yang bisa ditiru Indonesia.

Betapa tidak, sikap intoleransi terkait isu SARA di Indonesia yang terdiri dari ratusan ragam etnis atau sukubangsa, akhir-akhir ini begitu mudahnya disulut sehingga berpotensi mengancam persatuan dan kesatuan NKRI.

Halimah mulai meniti karir politiknya di Partai Aksi Rakyat sejak 2002 hingga  menduduki jabatan puncak sebagai ketua parlemen, dan mengundurkan diri September  lalu.

Berdasarkan penilaian Lembaga Pemilu Singapura (ELD), Halimah adalah satu-satunya capres dari etnis Melayu yang memenuhi syarat (a.l. pernah menempati jabatan publik penting) dari dua calon lainnya yakni Moh. Saleh Marican dan Farid Khan.

Halimah dilantik, Rabu ini sebagai presiden ke-8 Singapura, juga presiden wanita pertama di negara pulau dan kota berpenduduk sekitar 5,6 juta jiwa tanpa melalui pemungutan suara, setelah sebelumnya dinyatakan sebagai satu-satunya capres yang berhak maju pada  pemilihan terbatas bagi kelompok minoritas etnis Melayu.

Jalan terbuka lebar bagi Halimah setelah parlemen pada 2016 melakukan amendemen konstitusi dengan memasukkan klausul penyelenggaraan pilpres terbatas bagi kelompok etnis tertentu.

Hal itu dilatarbelakangi fakta bahwa golongan etnis Melayu selama lima periode dalam kurun waktu 30 tahun terakhir belum pernah memperoleh kesempatan menempati jabatan presiden.

Presiden berasal dari etnis Melayu pernah dijabat oleh Yusof Ishak pada periode awal terbentuknya Singapura (1965 – 1970) saat itu kekuasaan pemerintahan dijalankan oleh PM Lee Kuan Yew.

Pemberian kesempatan pada etnis minoritas menjadi orang nomor satu di Singapura dilatarbelakangi semangat persatuan yang menempatkan keberagaman sebagai kekuatan bangsa, terutama untuk menghadapi musuh bersama.