Selasa , 26 September 2017
Home > Berkat > Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Sudah 20 Tahun Kekurangan Air
Ilustrasi/Ist

Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Sudah 20 Tahun Kekurangan Air

JAKARTA – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mencatat hampir sekira 20 tahun lebih daerah di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara‎ kekurangan air.

Sehingga, fenomena kekeringan air saat ini yang terjadi di beberapa daerah tersebut merupakan hal yang sudah sering terjadi.

Hal itu diungkapkan Sutopo merujuk pada studi neraca air yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada tahun 1995 yang menunjukkan bahwa, surplus air hanya terjadi pada musim hujan. Sedangkan pada musim kemarau, daerah tersebut dilanda kekurangan air selama 7 bulan.

“Artinya ketersediaan air sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan air bagi penduduk di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,” kata Sutopo, Selasa (12/9/2017).

Hasil penelitian lain mengenai neraca air pada tahun 2003 juga menunjukkan hasil yang sama. Dari total kebutuhan air di Pulau Jawa dan Bali sebesar 83,4 miliar meter kubik pada musim kemarau, hanya dapat dipenuhi sekitar 25,3 miliar kubik atau hanya sekitar 66 persen.

Ditambahkan Sutopo, seperti dikutip Okezone, studi yang dilakukan Bappenas pada tahun 2007 juga menunjukkan hasil bahwa ketersediaan air yang ada sudah tidak mencukupi seluruh kebutuhan pada musim kemarau di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Sekitar 77% kabupaten/kota telah memiliki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun.

Karenanya kekurangan air yang terjadi di daerah tersebut terjadi hampir setiap tahun. Apalagi, kata Sutopo, jika fenomena El Nino melanda daerah tersebut‎ maka tidak dipungkiri akan terjadi kemarau yang berkepanjangan.

“Dan saat ini, lebih dari 3,9 juta jiwa masyarakat yang bermukim 2.726 desa di 715 kecamatan dan 105 kabupaten/kota di Jawa dan Nusa Tenggara mengalami kekeringan. Sebagian besar mereka mengalami kekeringan setiap tahunnya, ” katanya.