Korupsi Bikin Gaduh

342 views
Lahan kumuh pinggir rel KA. sering menjadi sarang preman.
- Advertisement -

AGUSTUS – September 2017 ini  ternyata menjadi bulan-bulan penuh suap. Meski kebanyakan kelas wader cethul, tapi lumayan bikin sibuk KPK. Namun demikian ada sejumlah elit politik menganggap, OTT (Operasi Tangkap Tangan) oleh KPK itu hanya bikin gaduh dan malu bangsa, karena tingkat korupsi juga tidak menurun. Apakah itu berarti korupsi harus dibiarkan saja, yang penting martabat bangsa terjaga meski banyak pejabat mencuri “martabak”.

Belakangan KPK begitu sering melakukan OTT. Benar-benar panen raya. Setidaknya ada 6 operasi tangkap tangan oleh penyidik KPK, sehingga praktek korupsi liwat suap-menyuap itu terbongkar. Para praktisinya ternyata luar biasa nekad dan sangat pede. Ketika mendengar ada pejabat sebelumnya yang terkena OTT, itu tak menjadikannya sebagai “yurisprodensi”. Pejabat berikutnya masih coba-coba juga melakukannya, dan akhirnya kena juga!

Paling awal 2 Agustus, Bupati Pamekasan Ahmad Syafii, ditangkap dalam kasus suap jaksa Rp 250 juta. Kedua,  21 Agustus, panitera PN Jaksel kena OTT karena suap Rp 300 juta. Ketiga, 24 Agustus Dirjen Perhubungan Laut Antonius Tony Budiono dalam kasus suap Rp 20,74 miliar. Ke empat, 30 Agustus Walikota Tegal Siti Masita dalam kasus suap Rp 5,1 miliar. Ke lima, 7 September hakim Tipikor Bengkulu Dewi Suryana juga ditangkap dalam kasus suap Rp 125 juta. Dan ke enam: 13 September Bupati Batubara Arya Zulkarnain dalam kasus suap Rp 346 juta.

Ada dua kemungkinan praktek korupsi lewat suap itu terjadi. Pertama, mereka menganggap bahwa apa yang dilakukannya bukanlah bagian dari korupsi, sebab pernah ada bupati di Madura menganggap bahwa suap itu sebagai rejeki. Kedua, dia berkeyakinan bahwa permainannya sangatlah rapi. Tidak mungkin seperti lagunya Matta Band : “Oh …oh kamu ketahuan, korupsi lagi……..”

- Advertisement -