Sabtu , 25 November 2017
Home > Citizen Journalism > Ketika Rizki Diterima Jadi Calon Chef di Restoran Jepang
Rizky. Foto: Ist

Ketika Rizki Diterima Jadi Calon Chef di Restoran Jepang

JAKARTA – Rasa gembira dan haru seketika membuncah tatkala Rizki (20) menerima panggilan telepon dari salah satu Restoran Jepang di Kawasan Gading Serpong, Tangerang Selatan.

Hari itu, Senin, 28 Agustus 2017, dirinya dipastikan diterima bekerja sebagai calon Chef di Restoran Jepang tersebut. Dengan antusias, ia mengatakan, siap untuk memulai training dan meneken kontrak yang ditawarkan.

Memasak bukanlah sebuah sesuatu yang baru bagi anak bungsu dari dua bersaudara ini, bisa dikatakan, memasak adalah passion dan kesehariannya.

Pada awalnya, ia terbiasa sendiri dirumah saat ayah dan ibunya bekerja dan pulang larut malam. Dari situlah ia mulai berinisiatif memasak untuk diri sendiri hingga kemudian timbul minat dengan dunia kuliner. Hal itu terus dilakukan secara intensif dan mulai memasak tak hanya untuk pribadi tapi juga untuk keluarga.

“Emang dari dulu dia (Rizki) sukanya masak. Kalo ibu sama bapak gak ada dia yang masak buat kita. Jadi kalo semua keluarga dah pulang, makanan udah ada di meja makan,” tutur Eka (31), sang kakak.

Kecintaan dan minat yang besar tersebut dengan tepat ia salurkan melalui Sekolah Kejuruan Pariwisata. Ia punya keyakinan dengan bersekolah di jurusan yang tepat, ia akan dengan mudah meraih impiannya untuk menjadi Chef professional, terlebih ia juga mendapat dukungan dari keluarga.

Tapi jalan menuju cita-cita yang diinginkan tak selamanya mulus. Ketika menjalani pendidikan, Rizki harus berkali-kali menerima panggilan dari pihak Sekolah, karena beberapa bulan mengalami tunggakan pembayaran sekolah.

Hal ini dirasakan wajar, karena hanya ibunda yang mencari penghasilan, setelah ayahnya, Ramdan (60), divonis mengalami sakit jantung dan harus menjalani rawat jalan.

Pada saat lulus, Rizki juga tak bisa langsung bekerja. Ia terkendala masalah adminitrasi yang belum terselesaikan dan berimbas pada ijazah yang belum bisa ia ambil. Setahun lamanya ia menunggu pekerjaan, selama itu pula ia melakoni pekerjaan serabutan dan membantu ibu berjualan bunga di Muara Angke, Jakarta Utara.