Sabtu , 25 November 2017
Home > Pakeliran > ANGGADA MURCA
Jaya Anggada dipanggil Prabu Rama untuk dipromosikan sebagai duta ke Ngalengka.

ANGGADA MURCA

KAPI Hanoman telah mendarat di negeri Pancawati. Dia melapor pada Prabu Rama bahwa memang benar Dewi Sinta dalam cengkeraman Prabu Dasamuka raja negeri Ngalengkadiraja. Istri Prabu Rama ini dicuri di hutan Dandaka, saat Rama dan adiknya, Leksmana memburu kidang kencana. Yang sangat menggembirakan bagi Prabu Rama, Dewi Sinta dalam keadaan baik-baik saja dan sepertinya masih dalam kondisi segelan plastik alias belum terjamah.

“Ini cincin dari Dewi Sinta, bukti bahwa hamba sudah bertemu langsung dengan beliau,” ujar Hanoman sambil menyerahkan cincin tersebut. Dia memang tak mau dituduh bikin perjalanan fiktif.

“Terima kasih Hanoman. Sedianya cincin ini untuk jaga-jaga, bila ada kesulitan keuangan bisa dilego di toko emas.” Jawab Prabu Rama, matanya berkaca-kaca karena ingat istri yang kini jauh di rantau.

Prabu Rama beserta Patih Sugriwa disaksikan Hanoman dan Anggodo, segera berunding bagaimana harus membebaskan Dewi Sinta. Informasi yang diberikan oleh paksi Jatayu ternyata memang benar adanya. Orang lain yang bukan kerabat bukan famili saja rela berkorban nyawa demi Dewi Sinta, apa lagi dia sebagai suaminya, harus menunjukkan kesetiaan dan tanggungjawabnya.

Semula Prabu Rama hendak segera mengerahkan prajurit kera untuk menyerbu Ngalengka. Namun Patih Sugriwa menyarankan, sebaiknya diadakan diplomasi antar negara saja dulu. Siapa tahu Dasamuka bisa dibujuk, sehingga dia rela memulangkan Dewi Sinta. Ini kan sangat menghemat anggaran APBN Pancawati. Kata Patih Sugriwa lebih lanjut, sebaiknya dikirim seorang duta kembali, demi mengetahui sikap resmi Ngalengka.

”Apa Hanoman kita kirim lagi kembali ke Ngalengka?” usul Prabu Rama.

”Jangan, Baginda. Dia kan masih capek, lagi pula luka bakar di tubuhnya perlu segera disembuhkan. Sebaiknya dicari tokoh lain, yang kredibel dan kafabel.”