Sabtu , 25 November 2017
Home > Berita Khas > Lebanon: Misteri Nasib PM Saad Hariri
PM Lebanon Saad Hariri tampak bersama Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz. Hariri mengumumkan pengunduran dirinya di Ryadh (4/11), diduga ditekan Arab Saudi karena dianggap tidak berani mendepak fraksi Hezbolah pro Iran dari koalisi pemerintahnya (pars today)

Lebanon: Misteri Nasib PM Saad Hariri

RAKYAT Lebanon menanti dengan cemas dan was-was mengenai nasib PM Saad Hariri yang sampai saat ini masih menjadi misteri sejak ia mengumumkan  pengunduran dirinya dari Riyadh, Arab Saudi, Sabtu,  4 November lalu.

Semula, kepergian Hariri ke Riyadh disebutkan untuk memenuhi undangan Raja Salman bin Abdulaziz namun spekulasi terkait adanya tekanan politik dari penguasa Arab Saudi semakin santer setelah ia mengumumkan pengunduran diri sebagai PM Lebanon.

Hariri tidak pernah lagi muncul di hadapan publik setelah pernyataan pengunduran dirinya yang begitu mendadak dan mengagetkan banyak pihak, apalagi diumumkan di negara lain.

Pemerintah Lebanon meyakini, Hariri diculik walau pun  dibantah oleh penguasa Arab Saudi yang menyatakan, ia bebas pergi kemana saja, tetapi Hariri sendiri lah yang khawatir atas keselamatannya sehingga memutuskan tetap tinggal di sana.

Sebaliknya, Presiden Lebanon Michel Aoun tetap menuntut jawaban dari penguasa  Arab Saudi mengenai nasib Hariri yang sudah sepekan lebih tanpa kejelasan, kapan ia akan kembali ke negaranya.

Aoun meminta agar Arab Saudi menjelaskan alasan kenapa Hariri yang sejauh ini belum mengirimkan surat pengunduran diri kepadanya secara resmi tidak atau belum kembali ke Beirut.

“Kami tidak bisa menerima, perdana menteri kami diperlakukan secara tidak wajar sesuai hukum internasional, “ kata Presiden Aoun dalam pernyataannya Sabtu (11/11) pekan lalu.

Pemerintah Perancis juga ikut mendesak agar Arab Saudi memberikan kebebasan bergerak pada Hariri, bahkan Presiden Emmanuel Macron yang negerinya pernah menjajah Lebanon, terbang ke Arab Saudi untuk menemui Putra Mahkota Mohammed bin Salman guna membahas persoalan Hariri.

Sementara berdasarkan laporan Reuters, keanehan sudah tercium saat kedatangan Hariri di Riyadh, Jumat (3/11), karena tidak ada acara penyambutan resmi seperti lazimnya jika seorang kepala pemerintahan atau kepala negara berkunjung ke negara lain.