Sabtu , 25 November 2017
Home > Berkat > Ibu Ini Dihukum Ringan karena Membunuh Anak Cacatnya karena Cinta
Ibu Huang membunuh anak cacatnya karena takut dia terlantar sepeninggalnya. Foto:Xinhua

Ibu Ini Dihukum Ringan karena Membunuh Anak Cacatnya karena Cinta

GUANGZHOU – Seorang ibu berusia 83 tahun berhadapan dengan pengadilan di Guangzhou, setelah mengaku membunuh anak laki-lakinya yang cacat berusia 46 tahun.

Wanita bermarga Huang ini mengaku setengah abad dia merawat anaknya itu dan selama ini ia tidak menyerah mengurusnya.

Pada persidangan, (21/92017) dia menjelaskan, mengapa dia memutuskan untuk membunuh anaknya sendiri.

“Saya semakin tua dan lemah dan saya takut saya mati duluan dan anak saya tidak memiliki siapa pun untuk merawatnya,” kata Huang. “Saya berjuang melawan keputusan ini selama seminggu akhirnya saya memutuskan untuk memberinya pil tidur.”

Ketika ditanya mengapa beberapa anggota keluarga lainnya tidak bisa mengurus anaknya, Huang menjawab bahwa dia tidak ingin mewariskan beban berat itu kepada orang lain.

“Akulah yang melahirkannya dan membuatnya menderita,” katanya. “Saya lebih suka membunuhnya daripada membiarkan dia dirawat orang lain.”

“Mengakhiri hidupnya yang menyakitkan lebih baik daripada membiarkannya menderita lagi,” lanjutnya. “Dia adalah anak saya, saya tidak pernah membenci atau mengabaikannya, saya tidak pernah berpikir untuk menyerah pada dia sebelumnya, tapi selama dua tahun terakhir kesehatan saya semakin memburuk.”

Anak Huang lahir prematur dengan cacat mental dan fisik yang parah sehingga membuatnya tidak bisa berbicara, berjalan atau hidup sendiri. Selama bertahun-tahun, otot-ototnya atrophi dan kondisinya semakin memburuk, artinya ibunya harus meluangkan lebih banyak waktu untuk merawatnya.

Sekitar 9 Mei lalu, dia memberi makan anak laki-lakinya yang berusia 46 tahun dengan 60 butir obat tidur, kemudian ia memasukkan kapas ke hidungnya dan mencekiknya dengan syal sampai dia berhenti bernapas. Keesokan harinya, dia menyerahkan diri ke polisi.
 
Sebelumnya teman-teman Huang sempat menyarankan agar dia memberikan anaknya ke fasilitas kesejahteraan, Huang berkeras tidak ada yang bisa merawat anaknya lebih baik dari yang dia bisa.