Sabtu , 25 November 2017
Home > Telisik > Semoga Penyanderaan di Mimika Berakhir Tanpa Korban
kelompok OPM menyandera sekitar 1.300 warga di tiga desa di distrik Tembagapura, Kab. Mimika, Prov. Papua sejak dua pekan lalu. Pemerintah RI berusaha melakukan upaya persuasif untuk menyelesaikan persoalan ini.

Semoga Penyanderaan di Mimika Berakhir Tanpa Korban

PENYANDERAAN terhadap warga sipil di tiga desa di Kec. Tembagapura, Kab. Mimika, Papua oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) belum berakhir, sementara negosiasi menemui jalan buntu karena pihak pelaku menolak kehadiran mediator yang diajukan aparat keamanan RI.

Tenggat waktu yang diberikan aparat keamanan, Sabtu lalu (11l/11) pun berlalu, sementara persediaan bahan pangan warga yan tersandera pun mulai menipis.

Maklumat memuat seruan kepada masyarakat yang menguasai, memiiki, membawa  atau menggunakan senjata api ilegal  agar secepatnya meletakkan senjata dan menyerahkan diri pada aparat penegak hukum atau kepolisian juga tidak digubris oleh kelompok pelaku.

Maklumat itu juga memuat imbauan agar warga tidak melakukan perbuatan melawan hukum seperti melakukan ancaman, penganiayaan, perampokan, penjarahan, perkosaan, pembunuhan atau tindak kriminal  lainnya.

Penyebaran maklumat yang dilakukan melalui udara, menyasar Kampung Utikini, Kimbely, Banti, Opitawak, Aroanoap dan Tsinga di Distik Tembagapura, Kab. Mimika.

Menkopolhukam Wiranto  menekankan kepada aparat TNI dan polisi agar mengedepankan pendekatan persuasif dalam menangani kasus penyanderaan 1.300 warga sipil oleh Kelompok Kriminal bersenjata (KKB) di Kampung Banti, Kimbely dan Utikini di Kab. Tembagapura yang sudah berlangsung dua pekan itu dan menghindari penggunaan kekerasan.

“Kami minta Kapolda dan Pangdam Papua segera melakukan langkah persuasif dulu, “ ujar Wiranto.

Namun Wiranto juga mengingatkan, penyanderaan terhadap warga negara tidak dibenarkan dan  semua masalah perlu diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat, tidak serang-menyerang, tuduh-menuduh, tidak ada konflik. “Itu lah yang kami inginkan, “ tandasnya.

Aparat keamanan menghadapi kesulitan memburu geng bersenjata dipimpin Sabinus Waker yang memanfaatkan kondisi geografis berupa perbukitan.Setelah melakukan penyergapan, mereka menghilang di kerimbunan pohon dan di balik perbukitan yang berkabut atau berbaur dengan warga lainnya.