SATRIA LANANGING JAGAD

1.677 views
Prabu Dewasrani berebut wahyu "Satria Lananging Jagad" bersama Burisrawa.
- Advertisement -

NAMA dalam e-KTP ditulis Dewi Uma, tetapi panggilan sehari-hari dia biasa disebut Bethari Durga. Bertolak dari sepak terjangnya belakangan ini, kalangan wayang secara bisik-bisik menyebutnya ”Mama Minta Pulsa”. Soalnya, setiap ada tokoh ngercapada konsultasi ke padepokannya, diminta gratifikasi tambahan berupa pulsa. Bukan Rp 20.000,- sampai Rp 50.000,- tapi bisa bernilai jutaan. Walhasil hobinya nge-WA lewat grup ini itu tak pernah terkendala.

Saat bernama Dewi Uma, Betari Durga merupakan bidadari tercantik di kelasnya. Bodinya seksi, kulit putih bersih, betis mbunting padi, payudara mirip bakpao kembar; sehingga syahwat Betara Guru pun terbangkitkan selalu. Tapi gara-gara dia suka memanfaatkan jabatan suami di Jonggringsalaka, SBG pun marah dan dikutuklah Dewi Uma menjadi perempuan bermuka raksasa, lambang kerakusan. Dia pun terusir dari Jonggringsalaka dan namanya diganti Bethari Durga.

”Masak nggak ada kebijakan lain, pukulun. Aku di ngercapada bisa apa?” ratap Bethari Durga mohon ampunan.

“Terserah, sudah tak ada tempat lagi di kahyangan buatmu. Di ngercapada tanah masih murah, kamu bisa ambil rumah BTN cicilan. Nanti kamu bisa usaha apa saja, kalau perlu jualan pulsa atau air isi ulang, atau toko online.”

Dengan koper kecil dan ATM yang saldonya masih lumayan banyak, Bethari Durga tinggalkan Jonggringsalaka menuju ngercapada. Kebetulan dia ketemu orang Betawi yang mau naik haji, sehingga  bisa beli 2 hektar tanah dengan harga murah. Bethari Durga pun segera membangun rumah besar diberi nama Pasetran Gandamayit. Meski lokasinya bukan daerah hunian, dengan menyogok Dinas Tatakota lokasi itu bisa dikuningkan dan bisa dibangun.

Selama jadi bini SBG, dia punya keahlian paranormal dan pengobatan tradisional. Bethari Durga langsung pasang iklan di Radio Safari, sehingga dalam waktu cepat banyak pasien datang, terutama para pejabat yang ingin naik posisinya. Dia pasang ”mahar” sampai Rp 100-200 juta, tapi tak mau ditransver bank, takut terlacak PPATK.

- Advertisement -