Jumat , 15 Desember 2017
Home > Wakafedia > Wakaf dan Kesejahteraan Umat
Ilustrasi/Ist

Wakaf dan Kesejahteraan Umat

Di tengah-tengah perhelatan 2nd Annual Islamic Finance Conference Agustus lalu, publik sempat dibuat gaduh dengan pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani tentang keinginannya mengoptimalkan zakat dan wakaf. Namun kesan yang ditangkap publik adalah, pemerintah ingin menguasai dan memanfaatkan zakat dan wakaf, sebagaimana pajak.

Padahal, pesan penting yang disampaikan mantan Direktur IMF ini sibstansinya adalah dana sosial Islam seperti wakaf dapat digunakan sebagai sumber pendanaan inovatif untuk pembangunan berkelanjutan. Ia pun menyajikan data tentang potensi wakaf yang sangat besar. Di Indonesia, total aset wakaf dalam bentuk tanah mencapai 4,4 miliar meter persegi. Jika demikian adanya, luas aset wakaf yang tersebar di 366.595 lokasi itu merupakan harta wakaf terbesar di dunia.

Sayangnya, mayoritas aset wakaf itu dimanfaatkan sebagai fasilitas sosial yang tidak mendatangkan keuntungan. Bahkan untuk operasional aset-aset wakaf tersebut, justru disubsidi dari anggaran infak dan sedekah umat Islam. Padahal, wakaf dapat dioptimalkan fungsi dan kebermanfaatannya sehingga bisa memberikan keuntungan untuk masyarakat banyak. Penggunaan tanah wakaf dapat dimaksimalisasi nilai ekonominya karena kebanyakan berada di lokasi strategis, (Republika, 24/8).

Kondisi ini merupakan tantangan bagi umat Islam Indonesia untuk mengubah aset wakaf dari tidak produktif menjadi produktif. Tujuannya agar harta wakaf dapat membantu mensejahterakan umat Islam.

Ibadah wakaf merupakan praktik menjalankan hukum Islam dengan misi utama keadilan sosial. Sebab wakaf adalah pemberian sejumlah harta benda yang diberikan cuma-cuma untuk kebajikan umum.  Di samping sebagai salah satu aspek ajaran Islam yang berdimensi spiritual, wakaf juga merupakan poin penting mewujudkan kesejahteraan ekonomi. Inilah dimensi sosial dari wakaf. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan praktik wakaf serta mengembangkan praktik ini agar lebih bermanfaat untuk masyarakat.

Apalagi dengan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia, pengelolaan wakaf bertambah penting bahkan mendesak. Oleh karena itu sangat penting mendefinisikan ulang apa itu wakaf dan bentuk apa saja yang bisa dikategorikan sebagai wakaf. Tujuannya adalah wakaf dapat masuk dalam instrumen pokok masyarakat terutama sektor kesejahteraan.

Wakaf uang dipelopori oleh M. A. Mannan, ekonom asal Bangladesh. Menurut Mannan, wakaf uang dinilai sebagai salah satu solusi yang dapat mengubah wakaf menjadi lebih produktif. Apabila wakaf uang mampu dikelola dan diberdayakan oleh suatu lembaga secara profesional, akan sangat membantu dalam mensejahterakan ekonomi umat, memenuhi hak-hak masyarakat, serta mengurangi penderitaan masyarakat.

Belakangan, lembaga pengelola wakaf mulai berfokus pada pengembangan wakaf yang mengarah kepada aset-aset produktif, termasuk Dompet Dhuafa. Artinya, aset tersebut dapat dibisniskan sehingga menghasilkan keuntungan. Keuntungannya disalurkan untuk kegiatan sosial misalnya untuk pendidikan dan kesehatan fakir, miskin.

Jika kalangan muslim masih sedikit yang menyerahkan wakaf dalam bentuk aset yang produktif, lkita sebenarnya tidak perlu berkecil hati. Lembaga wakaf bisa memanfaatkan instrumen wakaf uang tunai untuk memiliki dan mengelola aset produktif. Artinya wakaf uang tunai bukan tujuan akhir namun sebagai tangga awal untuk mengelola aset produktif.

Dana yang dikumpulkan dibelikan aset produktif yang dikelola untuk menghasilkan keuntungan. Selanjutnya keuntungan tersebut disalurkan untuk kepentingan sosial. Selain menghasilkan dana-dana untuk kegiatan sosial yang tidak pernah putus sumber pendanaan, dengan aset bisnis berbasis wakaf akan menguntungkan pelaku bisnis. Alasannya aset bisnis berbasis wakaf berprinsip memudahkan masyarakat dalam mengembangkan ekonomi bukan berorientasi mengeruk keuntungan semata. Wakaf uang dinilai bertambah strategis dan tepat mengingat kondisi ekonomi, sosial, dan masalah masyarakat belakangan ini.

Sayangnya, pemahaman masyarakat terhadap wakaf uang masih sangat minim. Kondisi ini dapat dimaklumi karena sosialisasi jenis wakaf ini juga masih sangat jarang. Akibatnya, potensi wakaf yang nilainya triliunan rupiah baru tergarap tak lebih dari 2 persen. Padahal wakaf jenis ini termasuk jenis wakaf yang diperbolehkan dalam Islam. Wakaf tunai ini juga sudah banyak berkembang di negara Timur Tengah atau negara Islam yang mapan secara ekonomi.

Dalam sejarah Islam, orang yang pertama kali mengenalkan wakaf uang adalah Imam Zufar (abad ke-8M), salah seorang ulama Mazhhab Hanafi. Imam Zufar menggariskan bahwa dana wakaf uang harus diinvestasikan melalui mudharabah dan keuntungannya dibelanjakan untuk charity. Imam Bukhari dan Ibn Syihab al-Zuhri juga menyatakan hal serupa, (M. Aziz, 2017).

Best Practices Dompet Dhuafa

Dibanding zakat, konsentrasi Dompet Dhuafa untuk menghimpun dan mengoptimalkan wakaf terbilang belakangan. Secara resmi, Dompet Dhuafa baru memiliki institusi pengelola wakaf pada tahun 2005, atau hampir satu dekade setelah Dompet Dhuafa berdiri, dengan mendirikan Tabung Wakaf Indonesia. Meski belakangan, Dompet Dhuafa telah menerima aset wakaf dari masyarakat sebelum mendirikan Tabung Wakaf.

Saat ini, tak kurang dari 30 aset wakaf produktif dengan luas lahan lebih dari 13 hektar. Adapun aset sosial berjumlah 8 unit dengan luas mencapai 6 hektar. Aset-aset wakaf itu berbentuk rumah sakit, sekolah, gedung perkantoran, rumah toko (ruko), kios, rumah sewa, papan reklame dan surat berharga.

Setelah 10 tahun berjalan, Dompet Dhuafa menyadari, meski terdapat peningkatan yang signifikan, penggalangan dan pemanfaatan wakaf masih belum optimal. Untuk itu, pada tahun 2016 lalu Dompet Dhuafa menerapkan strategi baru untuk menghimpun wakaf produktif, termasuk wakaf uang. Tak ayal pada tahun 2017, terjadi peningkatan yang cukup signifikan.

Dalam semester pertama di tahun 2017, penghimpunan wakaf mencapai Rp14,5 miliar. Angka ini meningkat hampir 100 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Demikian halnya dengan keuntungan atau surplus yang diraih dari pemanfaatan aset wakaf tersebut yang juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada semester pertama tahun ini, surplus yang diraih mencapai Rp 2,2 miliar.

Dari sekian banyak aset wakaf produktif yang dikelola Dompet Dhuafa, fasilitas kesehatan menjadi fokus utama untuk dikembangkan. Pasalnya, potensi wakaf produktif di bidang kesehatan masih tinggi, mengingat masih kurangnya ketersediaan fasilitas kesehatan saat ini. Dompet Dhuafa telah menyusun Road Map Social Enterprise dengan mencanangkan Healthcare Models untuk 5 tahun ke depan sejak tahun 2017. Wakaf produktif Dompet Dhuafa di bidang kesehatan yaitu meningkatkan berbagai  fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Fasilitas kesehatan yang menjadi konsentrasi Dompet Dhuafa antara lain rumah sakit, klinik, apotek, dan optik di seluruh Indonesia. Target fasilitas kesehatan tersebar di seluruh Indonesia dengan mengutamakan daerah yang sulit fasilitas kesehatan.

Saat ini, Dompet Dhuafa telah mengelola 4 rumah sakit, yaitu RS Rumah Sehat Terpadu (RST) di Bogor, RS AKA Medika di Lampung Timur, RS Saida di Jakarta, dan RS Lancang Kuning di Pekanbaru. RST dibangun dengan 100 persen dana wakaf. Hanya dalam waktu 2 tahun, rumah sakit yang menelan biaya Rp 30 miliar itu berhasil dibangun untuk melayani masyarakat dhuafa. Rumah sakit ini telah melayani lebih dari 115 ribu pasien sejak 2012 lalu.

Sementara RS AKA Medika di Lampung Timur diraih dengan wakaf sebagian dari pemilik lamanya, seorang dokter spesialis jantung yang cukup senior di kota Bandar Lampung. Sebagian lainnya dibeli dengan wakaf uang yang dihimpun dari masyarakat. Demikian halnya dengan RS Lancang Kuning di Pekanbaru, kepemilikan saham Dompet Dhuafa di rumah sakit ini diperoleh dari wakaf tunai masyarakat.