Jumat , 15 Desember 2017
Home > Wakafedia > Wakaf di Indonesia Tertinggal 10 Tahun dari Negara Tetangga

BWI:

Wakaf di Indonesia Tertinggal 10 Tahun dari Negara Tetangga

Potensi wakaf di Indonesia sangat besar. Berdasarkan catatan Kementrian Agama RI, saat ini terdapat aset wakaf tidak bergerak sebesar 4,6 miliar meter persegi, yang jika dikonversikan ke dalam rupiah mencapai Rp 2 ribu triliun.

“Itu yang tercatat saja, yang belum tercatat juga masih banyak. Itu semua berupa lahan tidur mau pun berbentuk sekolah, rumah sakit dan kebun,” jelas Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) Iwan Agustiawan Fuad kepada Swara Cinta akhir Oktober lalu.

Selain wakaf aset, wakaf dalam bentuk uang potensinya juga tak kalah besar. Menurut Iwan dalam satu tahun potensi wakaf uang di Indonesia capai Rp 10 triliun, namun Iwan tak memungkiri bahwa penyerapannya masih lemah, sekitar Rp 30 miliar per tahun.

Dijelaskan Iwan, wakaf uang dibagi ke dalam dua aspek. Pertama ialah wakaf yang dikumpulkan melalui Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS PWU) baik bank mau pun bukan bank, kemudian uang itu dikelola atau diinventasikan melalui sektor rill atau keuangan.

Aspek kedua adalah wakaf yang diberikan dalam bentuk uang. Dalam peraturan BWI, jenis wakaf ini sudah jelas peruntukannya untuk apa. Kemudian uang yang diwakafkan akan digunakan untuk membeli aset seperti sekolah dan rumah sakit.

Wakaf melalui uang ini potensinya cukup besar hampir Rp 400 miliar per tahun, dihimpun baik melalui kerjasama antarlembaga keuangan maupun Laznas,” terang Iwan.

Iwan berujar, dilihat dari perkembangannya, inisiatif dan minat masyarakat untuk melepaskan hartanya mengalami kenaikan seiring jumlah nazhir yang juga terus bertambah. Ada pun perkembangan tersebut tak terlepas dari model wakaf berjangka yang kini diterapkan BWI. Dengan model wakaf berjangka maka wakif akan kembali menerima asetnya dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun. Selama diwakafkan hasil keuntungan aset yang diterima nazhir sebesar 10 persen, dan 90 persen sisanya akan diterima ke mauqufalaih.