Jumat , 15 Desember 2017
Home > Pakeliran > GAJAH ANTISURA MURCA
Sarjokesuma wayangnya iseng banget. Gajah keramat milik kerajaan Ngastina itu langsung dicemplak......

GAJAH ANTISURA MURCA

SESUNGGUHNYA Prabu Jakapitana atau sering disebut Jakapit, termasuk berwajah tampan juga. Istrinya juga cantik jelita macam Syahrini, sehingga sangat membangkitkan syahwat. Tapi kenapa anak pertama mereka si Sarjokesuma justru tampil agak oon? Tutur kata dan perilakunya sama sekali tak mengambarkan bahwa dia putra seorang tokoh nasional, yang masih trahing kesuma rembesing madu.

Maklumlah, ibarat pabrik tebu saat giling, konsentrasi Banowati tidak fokus pada Prabu Jokopit yang sedang menebarkan bibit unggul. Justru pikirannya melayang-layang dan terbayang Permadi kesatria Madukara, cinta pertamanya. Olah karena itu saat bayi Sarjokesuma lahir, perilakunya klemar-klemer macam kesatria Harjuna, tapi otaknya meniru Jokopitono, bebal dan susah dinasihati.

“Aku ini heran diajeng Banowati. Aku tampan, dan kamu juga cantik, tapi kenapa anak kita lahir pating pecotot, macam turahan lampor (sisa makluk halus)?” keluh Prabu Jakapit sekali waktu.

“Jangan mencela produk sendiri, nggak baik. Jelek-jelek juga anak kita, syukuri saja segala pemberian dewa.” Hibur Banowati mencoba mengakhiri pembicaraan, takut melebar ke mana-mana.

Kala itu usia Sarjokesuma baru 13 tahun, masih sangat ABG. Tapi karena anak orang gedean, fasilitas mainannya sebagai anak sangat luar biasa. Bukan gledegan roda batang kelapa, tapi mobil-mobilan pakai aki. Apalagi perangkat komunikasi elektronik macam Ipad dan Android, dia punya yang produk mutakhir. Paling unik, meski kencing saja belum lempeng, Sarjokesuma sudah punya pacar temannya di SMP.

Rupanya dia tak puas juga dengan mainan semacam itu. Ketika srati (pawang gajah) sedang lengah, gajah pusaka kerajaan Ngastina yang bernama Kyai Antisura dituntun keluar dan dicoba untuk dinaiki. Padahal sebagai gajah keramat pemberian para dewa, yang berhak menaiki hanya trah asli pendiri negeri Ngastina. Karenanya, meski statusnya raja Ngastina,  Prabu Jakapit saja tak berani menaiki.