Jumat , 15 Desember 2017
Home > Telisik > Perang Saudara di Yaman Makin Ruwet
Perang saudara di Yaman tidak henti-hentinya a.l. akibat perebutan pengaruh antara Iran dan Arab Saudi dan sektarianisme lokal

Perang Saudara di Yaman Makin Ruwet

ALIH-ALIH mereda,  perang saudara di Yaman yang berkecamuk sejak 1994 semakin menjadi-jadi, dan yang terakhir ditandai “pecah kongsi” antara kubu loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh dan milisi suku Houthi.

Kontak tembak pecah di kawasan elite ibukota Sana’a Minggu (3/12) antara kedua kekuatan yang semula berada di satu aliansi bersama Iran melawan kubu  Presiden petahana Abdurabbuh Mansour Hadi dukungan koalisi Arab.

Paling tidak 36 orang tewas dan 200-an terluka dalam perang kota jarak dekat di sekitar Istana, kediaman serta markas partai Kongres Rakyat pimpinan Abdullah Saleh di kota Sana’a sejak Rabu lalu (29/11).

Baik milisi Houthi mau pun kubu Abdullah Saleh sama-sama mengklaim kemenangan di palagan tersebut, namun menurut laporan media, Houthi dalam posisi menyerang dan berhasil mengepung istana serta menguasai stasiun TV.

Namun yang jelas, insiden berdarah tersebut menandai ambruknya persekutuan  antara Houthi dan Abdullah Saleh yang sudah bahu-membahu selama hampir tiga tahun melawan pasukan Presiden Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab.

Arab Saudi sendiri masih menimbang-nimbang ajakan Abdullah Saleh termasuk persyaratan untuk membuka blokade atas Yaman dan Bandara Sana’a , mengingat sebagian kawasan kota masih di bawah kendali  pihak Houthi.

Beranggotakan sekitar 100.000 laskar, kekuatan Houthi dukungan Iran itu sangat diperhitungkan Arab Saudi, karena sudah terbukti mampu melakukan serangan rudal balistik ke wilayahnya.

Koalisi kubu Abdullah Saleh dan Houthi (sebelum pecah) menguasai Sana’a dan sebagian wilayah utara, sedangkan lawannya, kubu Mansour Hadi yang dukungan koalisi Arab mengendalikan kota Aden, sebagian wilayah timur dan selatan.

Republik Rakyat Demokrasi Yaman (selatan) dengan ibukota Aden yang beraliran Marxisme dan Republik Arab Yaman (utara) dengan ibukota Aden diproklamirkan sepeninggal penjajahan Inggeris pada 1967.