Jumat , 15 Desember 2017
Home > Berkat > 66 Persen Penderita Difteri karena Tidak Diimunisasi, Kemenkes Akan Gelar Imunisasi Serentak
Ilustrasi

66 Persen Penderita Difteri karena Tidak Diimunisasi, Kemenkes Akan Gelar Imunisasi Serentak

JAKARTA – Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Muhammad Subuh mengatakan sebanyak 66 persen dari keseluruhan kasus difteri yang terjadi sepanjang 2017 di seluruh Indonesia, adalah karena penderitanya tidak diimunisasi.

Dari 66 persen tersebut ada karena tidak ada imunisasi sama sekali, 31 persen imunisasi kurang lengkap, dan 3 persen lainnya imunisasi lengkap.

Pada Januari hingga November 2017 tercatat 593 kasus difteri terjadi di Indonesia dengan angka kematian 32 kasus. Kasus tersebut terjadi di 95 kabupaten-kota pada 20 provinsi.

Selain itu data Kementerian Kesehatan juga menyebutkan kasus difteri yang ditemukan sepanjang 2017 tidak terbatas usia. “Yang termuda 3,5 tahun, yang tertua 45 tahun,” ucap Subuh.

Subuh menyatakan imunisasi difteri sebagai langkah pencegahan utama penyakit tersebut harus dilakukan.

Dia menjelaskan penyebaran difteri bisa dihentikan dengan mencapai kekebalan kelompok yakni 95 persen cakupan imunisasi. Saat terjadi kekebalan kelompok, 5 persen orang yang tidak diimunisasi tetap dapat terlindungi dari penyakit tersebut.

Namun, ketika capaian kekebalan kelompok tidak terpenuhi, maka bakteri akan mudah menyebar bahkan bisa menginfeksi orang-orang yang sudah melakukan imunisasi.

Karenanya, Kementerian Kesehatan ambil langkah penanganan terkait Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di sejumlah daerah. Dalam waktu dekat, akan diadakan ORI (outbreak response immunization) di tiga provinsi.

“Ada 3 provinsi yang akan dilakukan ORI, yakni Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, total ada 12 kabupaten dari ke tiga provinsi dan akan dilakukan ORI pada tanggal 11 Desember 2017” katanya.