JITAPSARA BOYONG

1.000 views
Karena terpancing emosi, Prabu Baladewa melepaskan Nenggala. Akhirnya terjepit bumi.
- Advertisement -

PRABU Betara Kresna sebagai botoh atau timses keluarga Pendawa dalam Perang Baratayuda Jayabinangun, kini dibikin pusing. Bukan karena takut kehilangan gaji Rp 20 juta sebulan, tapi pusing karena harus makan buah simalakama. Jika harus menyerahkan pusaka Kembang Cangkok Wijayamulya ke Jonggringsalaka, tanpa pusaka itu kerajaan Dwarawati tak punya gigi lagi, tak ditakuti dan dihormati negara lain. Tapi jika dipertahankan, sebagai timses Prabu Kresna dinilai raja yang tak taat hukum, karena berani melawan kebijakan Betara Guru di Jonggringsalaka.

“Sebagai bentuk perang berkeadilan, pusaka Kembang Wijayamulya memang harus ditarik dari peredaran. Jika tidak, semua wayang Pendawa yang gugur dalam perang otomatis akan selalu dihidupkan pakai pusaka itu,” kata Resi Bisma dalam sebuah diskusi politik di RM Warung Daun.

“Karenanya, penarikan pusaka itu merupakan sebuah kenicayaan,” tambah Resi Seta menggarisbawahi.

Sesuai dengan namanya, Kembang Cangkok Wijayamulya memang kembang hasil cangkokan dari taman Sriwedari di Jonggring Salaka. Tapi walaupun sekedar bunga, tak sembarangan wayang bisa memperolehnya. Persyaratannya pun berbelit-belit, selain calon pemilik kudu titisan Wisnu, harus dilampiri surat rujukan dari IPB Bogor. Di samping itu harus pula menyertakan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara) yang isinya minimal Rp 1 triliun. Sebab jika pemiliknya wayang miskin, dikhawatirkan akan dikomersilkan untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati.

Maka hanya Betara Kresna lah yang memiliki Kembang Cangkok Wijayamulya. Tapi sekarang, demi keadilan dalam Perang Baratayuda, pusaka Dwarawati itu terpaksa dibarter dengan Kitab Jitapsara yang isinya hanya skenario perang. Kadang menyesal juga Prabu Kresna. Kenapa soal skenario Perang Baratayuda saja harus minta kepada Betara Guru? Pesan kepada Garin Nugroho atau Dedy Mizwar kan bisa.

- Advertisement -