Ini Dia Segudang Problem yang Dihadapi Warga Asmat Hingga Muncul Gizi Buruk

60 views
gizi buruk
Foto Ilustrasi

JAKARTA (KBK) – Belakangan nama Asmat mencuat kepermukaan akibat Kasus Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak. Namun apakah benar kasus gizi buruk dipicu oleh ketiadaan pangan di sana?

GM Kesehatan Dompet Dhuafa Rosita Rifai memaparkan, masalah yang dihadapi masyarakat Asmat sudah sangat kompleks. Kasus gizi buruk yang melanda anak-anak Asmat merupakan ekor dari sederet masalah yang menerpa masayarakat Asmat.

Pendidikan diyakini Rifai merupakan akar permasalahannya. Di luar pendidikan ketiadaan air bersih juga menjadi pemicu gizi buruk.

“Pengetahuan masyarakat di sana kurang, bagaimana mereka mengelola pangan,” ucap Rifai dalam Konpres di Gedung filantropi, Jakarta (14/2).

Relawan Dompet Dhuafa yang juga anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Khalik Malik menambahkan budya patrialistik yang dianut masyarakat Asmat juga dituding sebagai penyebab merebaknya kasus gizi buruk. Di Asmat kata Khalik, bila satu keluarga memiliki makanan, maka sang ayah terlebih dahulu yang wajib makan setelah itu anak laki-laki baru sang istri dan anak perempuan.

Problem berikutnya lanjut Khalik ialah hadirnya program bantuan dari pemerintah. Tersubsidinya bahan kebutuhan pokok mendorong masyarakat untuk terus mengonsumsi nasi dan ikan kaleng atau nasi dengan mie instan. Karena faktor budaya, tak jarang pula menjumpai warga Asmat yang hanya mengonsumsi nasi dan sagu tanpa lauk kendati hasil laut dan hutan berlimpah.

“Masalah lainnya adalah orang Asmat itu bila dapat uang harus dihabiskan dalam waktu satu hari. Uang itu dibelanjakan untuk kebutuhan pokok tadi. Bila kebutuhan pokok masih ada, mereka tidak pergi kehutan atau memancing di laut,” ujar Khalik yang selama 3 minggu melakukan assessment di Asmat bersama Dompet Dhuafa.

Khalik mengatakan ada pergeseran secara kultur yang membuat kemandirian warga Asmat tidak begitu menonjol lagi karena bergantung pada subsidi. Tak berhenti di sana, masalah lain juga muncul dari rapatnya jarak kelahiran antar bayi di dalam satu keluarga.