Warga Kampung Akuarium : Sejak Ada Shelter Saya Jadi Nggak Stres Lagi

457 views
- Advertisement -

JAKARTA (KBK) – Setelah lebih dari sepuluh menit tangannya sibuk membolak-balikan cireng, penganan berbahan dasar aci itu diangkat dari penggorengan. Satu menit kemudian giliran sosis berwarna merah yang masuk wajan untuk dimatangkan. Di dekat kompor gasnya, berderet minuman kemasan cepat saji yang tergantung di seutas tali rapiah. Di sisi kanan kompor, teronggok teremos berisi es batu.

“Ini cireng rasa oncom mas, satunya lima ratus saja,” ucap Jumiati, warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara yang kini menempati shelter A (19/2).

Di shelter bernomor urut A 28 tersebut Jumiati merasa hidupnya berdenyut kembali. Jauh sebelum Pemda DKI Jakarta mendirikan shelter untuk keluarganya, setiap hari Juamiati hanya bisa termenung memikirkan nasib.

Pasca penggusuran april 2015 silam, Jumiati hanya bertahan hidup dengan bernaung di gubukan semi permanen yang kerap bergoyang bila ditiup angin pantai.

“Alhamdulilah kehidupan saya bisa kembali. Sekarang saya bisa jualan lagi, sudah dua tahun saya hanya melamun karena rumah digusur dan tidak bisa berjualan,” ucap ibu dua orang anak itu.

“Jadi nggak stres lagi di sini,” tambahnya.

Meski Jumiati baru menempati shelter sejak 1 minggu lalu namun wanita yang telah mendiami Kampung Akuarium sejak tahun 1990 itu yakin bahwa dirinya bisa merajut kembali kehidupan yang terenggut oleh aksi penggusuran.

“Saya terimakasih dengan pak Gubernur karena perhatikan kami,” kata Jumiati sambil menyeduh tiga gelas es teh manis.

Seperti kebanyakan penghuni Kampung Akuarium lainnya, suami Jumiati bekerja sebagai pelaut di Pelabuhan Sunda Kelapa. Ia hanya dikirimi uang tiap 1 bulan sekali, namun berkat adanya shelter kini Jumiati tak lagi risau bila suami terlambat kirim uang karena dirinya bisa bersandar pada penghasilan dari warung.

- Advertisement -